Pinjaman Online; Solusi atau Bunuh Diri?

Senin | 25/02/2019 09.51 WIB
Pinjaman Online; Solusi atau Bunuh Diri?
Wirahadikusumah, Pengurus ICMI Orwil Lampung

"Kami menyediakan pinjaman dana berbasis online dan tanpa agunan dengan proses pencairan cepat. Minimal pinjaman Rp5-500 juta. Untuk info WA: 08*****".


BEBERAPA bulan belakangan ini handphone saya banyak menerima tawaran pinjaman online (pijol) bernada seperti di atas.

Entah dari mana perusahaan financial technology (fintech) itu tahu nomor saya. Mungkin mereka mengirim secara random.

Pastinya, dalam sebulan minimal bisa lima kali saya mendapatkan pesan ini. Dan saya yakin, banyak juga masyarakat yang menerima SMS atau WA seperti itu di handphone-nya.

Pijol sepertinya memang menjadi pemuas dahaga bagi masyarakat yang membutuhkan uang dengan cepat. Ini tentunya menjadi solusi bagi mereka.

Sebab, jika melihat dari tawaran di SMS maupun WA, banyak kemudahan yang ditawarkan dalam mengambil kredit online.

Informasinya, proses kredit yang diajukan tidak sampai berhari-hari untuk disetujui perusahaan pijol. Tetapi, hanya hitungan jam!

Karenanya, saya yakin banyak masyarakat yang membutuhkan uang dengan cepat tertarik dengan pijol.

Bayangkan, tanpa agunan dan hanya menggunakan handphone, mereka bisa mendapat pinjaman uang secepat kilat.

Namun, data yang saya dapat dari web Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Desember 2018, pijol yang terdaftar resmi jumlahnya hanya 88 perusahaan.

Sementara, informasinya ada ratusan perusahaan yang menawarkan pijol di Indonesia.

Karenanya, wajar saja jika Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menerima 1.330 laporan masyarakat yang mengaku sebagai korban pijol.

Laporan itu terkumpul sejak awal November hingga 25 November dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kasusnya mulai dari cara penagihan yang dianggap tidak sesuai ketentuan dan melanggar privacy.

Bahkan, diduga karena pijol, ada sopir taksi di Jakarta sampai bunuh diri pada awal Februari 2019.

Pria berinisial Z (35) itu sempat menyampaikan pesan melalui surat yang isinya memohon kepada pihak berwajib memberantas pijol.

"Kepada OJK dan pihak berwajib tolong berantas pinjaman online yang telah membuat jebakan setan," tulis Z dalam suratnya.

Berita yang saya kutip dari liputan6.com, temuan awal dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan perusahaan pijol oleh LBH Jakarta adalah penagihan dengan berbagai cara mempermalukan, memaki, mengancam, memfitnah, bahkan dalam pelecehan seksual.

Kemudian, penagihan dilakukan kepada seluruh nomor kontak yang ada di ponsel konsumen/peminjam (ke atasan kerja, mertua, teman SD, dan lain-lain).

Ada juga menjebak dengan bunga pinjaman sangat tinggi dan tidak terbatas; pengambilan data pribadi (kontak, sms, panggilan, kartu memori, dan lain-lain) di telepon seluler (ponsel) konsumen atau peminjam;

Atau, penagihan sebelum jatuh tempo dan tanpa kenal waktu; nomor pengaduan pihak penyelenggara pijol tidak selalu tersedia; dan alamat kantor perusahaan penyelenggara pijol tidak jelas.

Aaplikasi pijol juga sering berganti nama tanpa pemberitahuan kepada konsumen atau peminjam selama berhari-hari. Namun bunga pinjaman selama proses perubahan nama tersebut terus berjalan.

Saya berharap, dengan adanya permasalahan pijol ini, OJK tidak lepas tangan. Instansi itu harus bergerak dan memberantasnya. Jangan hanya diam menunggu korban, baru bertindak.

Memang OJK telah melansir perusahaan pijol legal di website-nya dan menyediakan nomor pengaduan jika merasa dirugikan perusahaan pijol.

Tetapi pertanyaannya, apakah masyarakat sudah banyak yang mengetahui website OJK dan nomor pengaduan tersebut?

Karena itu, OJK harus gencar menyosialisasikan serta mengedukasi masyarakat tentang pijol.

Di antaranya dengan rajin menggelar diskusi-diskusi bertemakan pijol dan tentunya harus menggandeng media massa agar edukasi dan sosialisasinya cepat sampai kepada masyarakat.

Harapannya agar masyarakat tidak terjerat "jebakan setan" seperti yang dikatakan Z, sopir taksi yang bunuh diri tersebut dalam surat wasiatnya. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID