Polresta Usut Kasus Beredarnya Gambar Beras Pemkot dan Masker Paslon 3
lampung@rilis.id
Senin | 26/10/2020 13.43 WIB
Polresta Usut Kasus Beredarnya Gambar Beras Pemkot dan Masker Paslon 3
Penyidik meminta keterangan Stafsus Wali Kota Bandarlampung Rakhmat Husein DC, Senin (26/10/2020). FOTO: IST

RILIS.ID, Bandarlampung – Penyidik Satreskrim Polresta Bandarlampung menindaklanjuti kasus beredarnya gambar bantuan beras Pemkot Bandarlampung dan masker bertuliskan 'Coblos Nomor 3 Pilihan Kita'.

Diketahui, gambar bantuan Covid-19 dan masker warna merah beredar luas di WhatsApp Group dan media sosial pada 16 Oktober lalu.

Tiga hari berikutnya, kasus itu dilaporkan ke Polresta Bandarlampung. Pelapornya adalah  Supriyanto, warga Jalan RA Basyid Perum Panorama Alam Kelurahan Labuhandalam, Kecamatan Tanjungsenang.

Polisi pun bergerak cepat menindaklanjuti kasus dugaan pencemaran nama baik dengan memanggil Staf Khusus (Stafsus) Wali Kota Bandarlampung Rakhmat Husein DC dan Aryanto pada Senin (26/10/2020).

"Iya benar, kami Rakhmat Husein DC dan Aryanto dimintai keterangan oleh penyidik di ruang Unit Tindak Pidana Tertentu Polresta Bandarlampung, untuk membantu proses penegakan hukum, menelusuri siapa pembuat dan penyebar pertama dan ikutannya foto beras dan masker tersebut," kata Rakhmat Husein, Senin (26/10/2020).

Menurutnya, gambar bantuan beras Pemkot yang dikaitkan dengan masker paslon nomor 3 Eva Dwiana-Deddy Amarullah merupakan fitnah keji dan harus diusut tuntas oleh aparat penegak hukum.

"Karena beras bantuan Covid-19 dari Pemkot Bandarlampung tersebut dibagi terakhir kalinya di awal bulan September 2020 dan tidak dilanjutkan oleh Walikota Bandarlampung karena dikhawatirkan akan dipolitisir, karena pada bulan Oktober sudah masuk masa kampanye pilkada. Tapi ternyata ada yang terlalu kreatif berpikir dan bertindak jahat sehingga mencoba menyandingkan beras Covid-19 dengan masker paslon," jelas Husein.

Ia menduga viralnya gambar bantuan beras dan masker itu bermaksud seolah-olah paslon tersebut memberikan masker bersama beras dalam kegiatan kampanye dengan tujuan agar seolah-olah paslon dan Pemkot Bandarlampung melanggar hukum dan akan dicemooh warga karena terlibat kegiatan politik uang dan sembako.

"Walikota Bandarlampung tentu saja marah karena beliau selama ini justru terdepan melawan politik uang dan sembako. Makanya, walikota memberi kuasa ke pengacara untuk melaporkan kasus ini ke kepolisian. Karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan," tegas Husein.

Husein menegaskan suasana pilkada Kota Bandarlampung yang meriah dan ketatnya masa kampanye tentunya tidak boleh menafikan dan mengeyampingkan tata krama, sopan beradab, dan patuh pada aturan.

"Semoga kasus ini terungkap dan terbukti siapa pelaku pembuat foto fitnah ini," pungkasnya. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID