Produksi Sayur Organik Melalui Pemanfaatan Limbah Budidaya Ikan dengan Teknologi Aquaponik
lampung@rilis.id
Jumat | 23/10/2020 13.12 WIB
Produksi Sayur Organik Melalui Pemanfaatan Limbah Budidaya Ikan dengan Teknologi Aquaponik
Sistem akuaponik yang diterapkan di Desa Totokaton, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah./FOTO ISTIMEWA

RILIS.ID, LAMPUNG TENGAH – Universitas Lampung (Unila) meluncurkan ”Program Kemitraan Masyarakat (PkM)” di Desa Totokaton, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah.

Sejak awal tahun 2020, Unila terus membina hubungan baik dengan warga Desa Totokaton melalui PkM di kelompok pembudidaya Ikan Betta 13. PkM.adalah program pengabdian masyarakat yang dikemas dalam bentuk community development melalui penerapan teknologi.

Saat ini, kelompok mitra sudah bergelut di bidang pembudidayaan ikan hias selama 12 tahun, baik lingkup usaha pembenihan maupun pembesarannya. Salah satu permasalahan yang kerap dijumpai adalah penanganan limbah kolam budidaya sehingga Tim PKM Unila melakukan proses diseminasi teknologi akuaponik ke kelompok mitra.

Akuaponik merupakan sistem budidaya yang memadukan sub sistem akuakultur dengan sub sistem hidroponik sehingga menjadi suatu sistem produksi pangan terpadu (ikan dan tanaman). Cara kerja sistem akuaponik ini adalah penyaringan air kolam budidaya oleh tanaman sehingga dapat mengurangi kandungan amoniak di air dan dapat meminimalisir penggunaan air bersih. Air yang kaya nutrien digunakan untuk tanaman sementara tanaman digunakan sebagai biofiltrasi untuk meregenerasi air.

Maulid Wahid Yusup selaku tim PkM Unila mengatakan, penggunaan sistem akuaponik untuk kegiatan budidaya memiliki keuntungan dibandingkan dengan sistem lainnya karena terdapat hubungan sinergis antara tanaman, ikan, dan lingkungan sehingga dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan.

Prinsipnya adalah air yang berada di media budidaya akan dialirkan menuju talang pemeliharaan sayuran menggunakan pompa ke talang paling atas kemudian dialirkan kembali lagi ke kolam dengan memanfaatkan prinsip gravitasi, lanjutnya.

Tim PkM Unila kemudian melakukan pelatihan dan pendampingan penerapan teknologi akuaponik ke kelompok mitra. Di antaranya, persiapan instalasi kolam budidaya, instalasi akuaponik, penyemaian benih sayuran, penebaran ikan, pemeliharaan dan perawatan hingga pemanenan sayuran dan ikan.

Herman Yulianto, selaku anggota tim PkM Unila lainnya mengatakan, hingga setahun terakhir, program ikan hias dan sayur organik melalui teknologi aquaponik dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan ini menitik beratkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan penambahan hasil produksi berupa sayuran organik melalui pemanfaatan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan budidaya ikan.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan produktifitas masyarakat dan daya saing daerah melalui pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

”Mitra antusias saat berdiskusi tentang ide untuk memanfaatkan limbah budidaya sebagai nutrisi sayuran sehingga bisa memberikan keuntungan dari sisi ekonomi bagi mereka,” katanya.

Proses bertahap yang dilakukan tim PkM Unila juga mendapat respons positif dari mitra setempat. Dibuktikan dengan hasil panen sayuran akuaponik pada bulan ini. Hubungan yang terjalin baik ini membuktikan konsep tim PkM Unila bisa didiseminasikan ke kelompok budidaya ikan lainnya.

Unila menargetkan terbangunnya mitra binaan akuaponik di desa lainnya, hal itu dimaksudkan agar pemanfaatan optimal dari limbah budidaya pada kelompok budidaya ikan, sehingga harapannya mitra ini akan menjadi desa mandiri produksi sayuran dan ikan. Dengan semua efisiensi dan kemandirian di atas, diharapkan kesejahteraan masyarakat akan meningkat.(*)

Editor Wirahadikusumah


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID