Profesi yang Terabaikan
lampung@rilis.id
Minggu | 12/04/2020 21.45 WIB
Profesi yang Terabaikan
Oleh: Wirahadikusumah

Profesi apakah yang memastikan seseorang positif terjangkit virus Corona (Covid-19)?

Jika jawabannya dokter, Anda salah. Lebih-lebih bila Anda menjawab perawat.

Bagi yang belum mengetahui jawabannya, saya akan beritahu.

Yang bisa menentukan seseorang positif terjangkit Corona adalah profesi bernama: Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM). Kita biasa menyebutnya sebagai petugas laboratorium.

ATLM-lah yang sebenarnya garda paling terdepan dalam menghadapi wabah Corona. Tanpa mereka, diagnosis dokter tidak bisa ditegakkan

Profesi ini juga bersentuhan langsung dengan orang dalam pemantauan (ODP), dan pasien dalam pengawasan (PDP), serta pasien yang dinyatakan positif terjangkit Covid-19

Mereka yang mengambil langsung sampel darah dari ODP dan PDP, serta pasien positif Covid-19. Juga melakukan pengambilan Swab Nasofaring dan Orofaring pada PDP dan pasien positif Covid-19.

Ketika melakukan mengambil sampel itu, tentu mereka harus bersentuhan dengan pasien. Karena untuk mengambil sampel di hidung dan tenggorokan PDP dan pasien positif, mereka harus mengorek-ngoreknya.

Pun ketika mengambil darah. Mereka pasti berjarak sangat dekat dengan ODP dan PDP dan pasien positif. Tentunya juga bersentuhan langsung.

Semuanya itu mereka lakukan untuk menegakkan diagnosis dokter. Apakah positif terjangkit virus Corona atau tidak.

Karenanya, ATLM sangat rentan terpapar Covid-19. Terlebih, pengambilan sampel untuk pasien tidak hanya dilakukan satu kali. Tapi bisa sampai tiga kali. Atau lebih.

Namun, mengapa profesi ini seperti tidak terdengar? Bahkan seakan diabaikan.

Tengoklah aturan pemerintah yang di laksanakan oleh BPJS ketenagakerjaan. Dalam hal kasus infeksi Covid-19, perlindungan hanya terbatas pada dokter dan perawat. Sementara, petugas laboratorium tidak termasuk.

Profesi ini bahkan dianggap sama dengan cleaning service. Sebab, dinilai sebagai tenaga kesehatan yang bertugas di luar ruang isolasi. Juga hanya sebagai petugas pendukung atau supporting di rumah sakit.

Karena itulah, pemerintah memutuskan melalui BPJS Ketenagakerjaan, petugas laboratorium yang mengalami sakit akibat infeksi Covid-19, biaya pengobatan dan perawatannya tidak ditanggung.

Saya yakin, keputusan itu sangat ”menyakitkan” bagi petugas laboratorium. Terlebih saya juga mendapatkan kabar, jika insentif mereka lebih rendah daripada yang diterima dokter maupun perawat.

Padahal, jika dilihat dari apa yang dikerjakan, mereka ini sangat rentan sekali tertular. Karenanya, saya berharap, pemerintah dapat meninjau kembali aturan tersebut.

Jangan sampai mereka diabaikan. Sebab, tanpa profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik , kita tidak akan tahu, apakah seseorang terjangkit virus Corona atau tidak. (Wirahadikusumah)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID