Pupukku Sayang, Pupukku Malang (2)
lampung@rilis.id
Jumat | 01/03/2019 06.01 WIB
Pupukku Sayang, Pupukku Malang (2)
Dwi Eva Nirmagustina, Dosen Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Lampung

PERMASALAHAN penyaluran pupuk subsidi yang diproduksi PT Petrokimia Gresik ke petani dari tahun tahun selalu menghadapi kendala.

Beberapa faktor penyebab selain alokasi pemerintah yang lebih kecil dari jumlah kebutuhan adalah belum adanya data akurat mengenai jumlah petani yang berhak mendapatkan pupuk subsidi.

Atau, ketidakjujuran petani dalam melaporkan luas lahan yang dimiliki, pengetahuan petani yang minim mengenai dosis pupuk yang seharusnya digunakan, dan penyelewengan pupuk subsidi.

Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian saat ini telah membuat sistem data yang terintegrasi sehingga petani dapat melakukan pemesanan, pembayaran, dan penebusan pupuk melalui billing system yang dibuat oleh bank.

Lampung merupakan salah satu provinsi di luar Pulau Jawa yang melakukan kegiatan uji coba billing system dengan kartu taninya selain Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Kalbar, Kalsel, Sulsel, Bali, dan NTB.

Billing system yang dikembangkan Bank Lampung bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinas PTH) Provinsi Lampung masih belum sempurna dan butuh banyak perbaikan. Tapi usaha yang telah dilakukan patut diapresiasi.

Billing system adalah sistem berbasis on-line yang memerlukan data petani secara akurat dan dukungan konektivitas internet sampai ke pelosok desa tempat sebagian besar petani bermukim.

Penggunaan teknologi berbasis internet yang semakin luas dan didukung oleh adanya big data adalah salah satu tanda era revolusi industri 4.0. Jangkauan koneksi internet yang luas sampai ke pedesaan dengan sinyal yang baik serta adanya big data petani yang dimiliki Dinas PTH dan Bank Lampung adalah salah satu cara yang akan memberikan kemudahan kepada pihak-pihak terkait dalam menyalurkan pupuk subsidi kepada petani yang berhak mendapatkannya sesuai waktu yang telah ditentukan.

Mekanisme yang dibuat untuk mendukung hal tersebut di atas ada 2, yaitu data petani dan mekanisme billing system.

Pendataan petani dilakukan oleh penyuluh lapangan di desa untuk kemudian menjadi data kelompok tani (poktan) yang selanjutnya disusun menjadi data electronik-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

Sedangkan billing system ada beberapa tahap yang harus dilakukan untuk akhirnya petani memperoleh pupuk yang menjadi haknya. Tahap 1) Petani membuka rekening di bank dan akan mendapatkan kartu tani, 2) Pengurus kelompok tani (poktan) melakukan pemesanan pupuk subsidi di bank yang kemudian akan mendapatkan kode pemesanan, 3) Petani melakukan pembayaran berdasarkan kode pemesanan, 4) Bank akan mengeluarkan bukti bayar, 5) Bukti bayar akan digunakan untuk mengambil pupuk di kios yang telah ditentukan.

Dengan terintegrasinya semua sistem secara baik mulai dari kerja penyuluh di lapangan untuk mendata semua informasi yang diperlukan, kejujuran petani dalam melaporkan jumlah lahan dan jumlah pupuk yang dibutuhkan, sumber daya manusia yang handal dalam menginput data ke sistem on-line, konektivitas internet yang bagus sampai ke pelosok desa, mekanisme billing system yang baik diharapkan menjadi salah satu cara menangani kendala penyaluran pupuk subsidi.

Selain itu ada hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk menangani masalah ini yaitu menggunakan pupuk alternatif, pupuk organik.

Memang penggunaan pupuk an-organik mempunyai sisi positif tapi juga mempunyai sisi negatif. Sisi positif utama tentunya akan meningkatkan produksi hasil pertanian. Sisi positif lainnya adalah dapat digunakan secara langsung tanpa perlu membuat karena telah tersedia dipasaran yang diproduksi oleh pabrik.

Sedangkan sisi negatifnya, penggunaan pupuk an-organik secara terus menerus dalam jangka panjang akan berdampak pada tanah, tanaman, dan ekosistem. Tanah akan kehilangan kesuburan akibat dari tanah menjadi asam, tekstur tanah menjadi keras dan padat, tanah tidak mampu menyimpan air, nutrisi di dalam tanah hilang, jasad renik tanah mati, dan tanah tercemar residu pupuk dan pestisida.

Dampak terhadap tanaman diantaranya akan muncul penyakit baru pada tanaman, serangan hama sulit dikendalikan, tanaman mudah diserang hama dan penyakit, terkandung residu pupuk kimia dan pestisida di dalam tanaman.

Sedangkan dampak terhadap ekosistem meliputi tercemarnya air, tercemarnya udara akibat emisi metana dari penguapan pupuk organik, tercemarnya tanah, berpengaruh terhadap perubahan iklim.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya penggunaan pupuk an-organik adalah perlu biaya untuk memperolehnya. Oleh karena itu perlu kearifan dalam penggunaan pupuk an-organik.

Solusi terbaik untuk mengatasi hal ini adalah penggunaan pupuk organik. Selain mampu memberikan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman, pupuk organik juga mampu memelihara kesuburan tanah karena pupuk organik banyak mengandung bahan organik yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Yang tidak kalah pentingnya adalah pupuk organik dapat mengurangi biaya produksi karena petani dapat membuat sendiri dengan memanfaatkan potensi yang ada. Tapi memang pupuk organik mempunyai beberapa kekurangan dibandingkan pupuk an-organik. Pupuk organik bersifat kompleks sehingga tidak bisa langsung diserap oleh tanah dan memiliki kadar nutrisi yang sangat bervariasi. Namun hal ini bukan kendala dalam menggunakan pupuk organik.

Pupuk organik adalah pupuk yang diperoleh dari makhluk hidup (tanaman dan hewan) yang telah mengalami proses pelapukan. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan.

Pupuk organik mampu menyediakan karbon organik sehingga sangat bermanfaat pada sebagian besar lahan pertanian intensif untuk meningkatkan kandungan karbon organik dalam tanah sehingga mampu meningatkan produktivitas lahan dan mencegah degradasi lahan.

Memang dalam penyediaan pupuk organik petani membutuhkan waktu dan tenaga untuk menghasilkannya. Tapi melihat keuntungan yang akan diperoleh dalam jangka panjang maka penggunaan pupuk organik wajib dilakukan.

Diharapkan petani secara mandiri dapat membuat dan kemudian menggunakan pupuk organik pada lahan pertaniannya. Peran penyuluh di lapangan sangat besar untuk memberikan pemahaman dan mendorong petani untuk melakukannya. (bersambung)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID