Ramadan, Kabel, dan Hidayah
lampung@rilis.id
Senin | 28/05/2018 07.00 WIB
Ramadan, Kabel, dan Hidayah
Salamun, Mahasiswa Program Doktor UIN Raden Intan Lampung; Dosen STIT Pringsewu Lampung

TEKNOLOGI konektivitas berkembang begitu pesatnya. Jika awal era milenium kedua menikmati koneksi internet sambil ditinggal mengerjakan kegiatan lain karena loading-nya lama --menurut istilah anak zaman now, maka kini dengan era 4G (fourth-generation technology) bahkan sudah 5G dan terus berkembang, masyarakat semakin dimudahkan untuk berkomunikasi.

Jika sepuluh tahun yang lalu sambungan video call menjadi sesuatu yang wah, maka kini anak-anak balita bahkan sudah diakrabkan oleh orang tuanya dengan gadget dan teknologi terkini itu.

Era ketersambungan telah membuat orang begitu dimudahkan, dimanjakan, bahkan tidak sedikit yang diperbudak oleh gadget dan teknologi. Ya, teknologi adalah alat dan pembantu untuk memudahkan berbagai kegiatan kita, artinya akan berfungsi seperti apa sangat tergantung kepada user (penggunanya).

Orang akan sangat gelisah barangkali jika tertinggal ponsel atau gadget, bahkan ada yang bilang lebih baik tertinggal dompet daripada tertinggal gadget, apalagi yang sudah menggunakan uang elektronik (e-money) misalnya.

Orang akan segera gelisah kalau sudah lowbatt atau kehabisan paket data. Begitulah jika orang sudah sangat tergantung dengan arti pentingnya sebuah ketersambungan. Lantas apa hubungannya cerita ini dengan kabel dan hidayah? Sabar dulu, hehe...

Dalam Alquran setidaknya terdapat enam kali menggunakan kalimah (kata) ’habl’ dan bentukannya yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi tali. Tentu untuk lebih mempertegas dalam terjemahan Alquran oleh Kementerian Agama ditambahkan kata ’agama’.

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. 3-Ali Imron: 103). Juga dalam ayat yang lain, ”Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia” (QS.3-Ali Imron: 112).

Bahkan dimaknai sebagai urat: ”Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. 50-Qaf: 16).

Dengan demikian kalimah (kata) habl dalam bahasa Arab sepertinya lebih identik dengan cable dalam bahasa Inggris. Cable atau kabel lebih ’bermakna’ untuk mengkoneksikan (menyambungkan) sebagaimana relevansi ayat tersebut.

Tentu agar tidak sesederhana makna tali lantas diberi penegasan yang dimaksudkan ialah agama. Dan dalam konteks kekinian tentu akan dapat dipahami sebagai terkoneksi atau berada dalam sistem jaringan Allah SWT.

Untuk dapat terkoneksi dengan Allah SWT tentu harus masuk (login) dengan menggunakan dua kalimat Syahadat (berislam). Agar koneksinya tetap stabil dan bahkan terus meningkat harus di-update (diperbaharui) dengan amal-amal saleh sesuai syariat-Nya.

Makin sering di-update insya Allah koneksi dengan Allah SWT  akan semakin canggih sehingga tidak saja sekelas 4G atau 5G dan entah sampai level mana. Yang pasti konektivitas dengan Allah SWT adalah unlimited generation tergantung pencapaian ’maqam’ hamba-Nya.

Makin dekat seseorang yang beriman kepada Allah SWT maka akan sampai kepada suatu pencapaian yang diisyaratkan dalam sebuah Hadis, ”Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ’Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya’,”.

”Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.” (HR. Imam Bukhari).

Ramadan adalah sebuah momentum untuk menaikkan level (upgrade) keimanan kita melalui amaliah Ramadan baik yang berdimensi individual maupun yang berdimensi sosial. Keseimbangan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial menjadi sangat penting.

Makin dalam dan kuat iman seseorang maka insya Allah ucapannya akan semakin menyejukkan, perbuatannya akan semakin membawa manfaat untuk orang banyak, selalu menebar kedamaian bukan sebaliknya justru menyebarkan benih-benih kebencian dan permusuhan, menyebabkan kegaduhan demi kegaduhan dan semacamnya.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita, orang tua kita, pasangan hidup kita, putra putri kita, seluruh saudara, sahabat  dan ahli kita kepahaman terhadap agama Allah SWT secara sempurna serta diberikan hidayah dan kekuatan untuk mengamalkannya secara istiqamah. Wallahu A’lam bish-shawab. (*)


 

 

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID