Rilis.id, Altruisme, dan Gempa Lombok
lampung@rilis.id
Senin | 10/09/2018 06.00 WIB
Rilis.id, Altruisme, dan Gempa Lombok
Ilham Mendrofa, Founder Rilis.id

AWALNYA media rilis.id yang kemudian berkembang ke Provinsi Lampung dengan nama rilislampung.id, didirikan dalam semangat merawat altruisme. Yaitu sebuah gagasan besar untuk membangun peradaban baru yang mengoreksi sikap-sikap mementingkan individu atau ego.

Nah, apa yang terjadi di Lombok merupakan bencana nasional yang menelan korban jiwa dan harta akibat gempa. Ini tentunya menjadi sebuah ujian bagi kita sesama umat manusia. Bukan hanya sebagai warga bangsa, tetapi juga untuk melatih kemanusiaan kita. Wujudnya adalah bagaimana kita bisa berempati.

Karena itu, saya merasa Relawan 69 yang juga diikuti dokter Jihan Nurlela dan kawan-kawan adalah sebuah gerakan kesukarelawanan yang luar biasa. Gerakan ini digagas anak-anak muda untuk membangun kepedulian dan melatih kepekaan terhadap sesama. Sebuah semangat yang harus dipromosikan karena ini adalah bibit dari peradaban baru bernama altruisme itu.

Rilis.id memahami apa yang dilakukan relawan ini adalah simbol bahwa empati harus dimulai, dibangun, dan dipunya oleh kita semua. Rilis.id karenanya mengambil peran untuk mempromosikan dan mempublikasikan, sekaligus mengawal gerakan kesukarelawananan ini agar menjadi tradisi baik di seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.

Lombok adalah sebuah kasus, tempat, atau keadaan. Tetapi, bicara tentang daerah ini sebenarnya bukan soal bencananya saja. Lebih jauh lagi, bagaimana empati menjalar ke dalam semua lini kehidupan bermasyarakat. Sehingga, tragedi-tragedi kemanusiaan dapat dirasakan sebagai beban yang harus kita pikul bersama-sama sebagai warga negara.

Apa yang sudah dilakukan Relawan 69 adalah sebuah cerita atau serpihan waktu yang bukan hanya menjadi pelajaran. Tapi, menginspirasi banyak anak-anak muda milenial untuk ikut ambil bagian dalam gerakan kemanusiaan.

Saya meyakini gerakan kemanusiaan semacam inilah yang membedakan kita dengan makhluk lain di muka bumi. Sebagaimana ditulis Yuval Noah Harari dalam novelnya, Sapiens.

Bahwasannya, identitas kemanusiaan adalah empati yang kemudian diwujudkan secara konkret oleh Relawan 69. Dan, keikutsertaan rilis.id adalah bagian dari itu semua.

Saya merasa surprise karena gerakan kesukarelawanan ini justru datang dari Lampung, sebuah daerah yang terletak berpuluh-puluh kilometer dari tempat kejadian.

Provinsi Lampung memang pernah mengalami sejarah serupa. Dulu, kalau ingat, pada 15 Februari 1994, terjadi gempa besar di Liwa, Lampung Barat, yang kemudian melibatkan banyak aktivis kemanusiaan yang membantu pemulihan pascabencana.

Saya pribadi pernah berada dalam suasana sama ketika kampung halaman saya, Nias, dilanda gempa di tahun 2004. Hampir 14 tahun dari sekarang, trauma atas bencana itu masih ada.

Karenanya ketika sekarang ada gerakan kesukaralewanan yang dimotori anak-anak muda Lampung, saya mendorong dan mendukung penuh. Kenapa? Sebab, kita tidak punya kemampuan menolak tragedi atau bencana alam. Alam punya mekanisme, hukum sendiri.

Yang bisa dilakukan adalah ketika bencana terjadi, aktivitas kemanusiaan kita bekerja secara baik. Bahwa, korban gempa di Lombok adalah saudara-saudara sebangsa. Seumat. Mereka harus dibantu.

Apalagi saya mendapat informasi Relawan 69 ini terdiri dari teman-teman yang juga punya latar belakang medis. Sehingga keahlian mereka sangat berguna untuk membantu pemulihan pascagempa.

Tentu saja panggilan kemanusiaan yang datang kepada Relawan 69 ini adalah sebuah nikmat Tuhan karena tidak semua orang bisa mendapat kesempatan untuk membantu saudara-saudara kita di Lombok.

Saya melihat gerakan ini dapat menjadi suatu model alias contoh untuk menjadi virus kebaikan yang memang harus disebarkan ke seluruh anak-anak muda.

Satu hal yang dapat diambil dari kejadian Lombok dan mungkin kejadian bencana alam di beberapa tempat, termasuk kampung halaman saya, Nias, adalah kewaspadaan atau kesiapsiagaan kita terhadap bencana.

Kesiapsiagaan kita mesti menjadi materi standar yang dipelajari di bangku-bangku formal pendidikan. Mengapa? Kalau kita pelajari posisi geografis Indonesia memang berada di lempeng tektonik yang rawan gempa.

Hal paling mendasar misalnya, arsitektur dari semua bangunan wajib memperhitungkan semua itu. Begitu juga sikap dasar apabila ada informasi dini tentang gempa. Bagaimana teknik-teknik ke luar dari kerawanan bencana alam tersebut harus sudah menjadi pengetahuan dasar.

Oleh sebab itu, saya merasa Relawan 69 tidak boleh menjadi gerakan ad hoc sesaat. Saya karenanya men-support untuk dibakukan menjadi gerakan kemanusiaan panjang yang tidak hanya beraktivitas di Lombok. Tapi juga menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang bisa bekerja di semua tragedi kemanusiaan di mana saja.

Pengalaman yang dikisahkan dalam tulisan para relawan sangat penting. Sebab, ini adalah sejarah yang patut disimpan dalam memori kita. Apalagi, kenangan atas aktivitas kemanusiaan yang dilakukan Relawan 69 di Lombok merupakan catatan kebaikan. Setiap saat dapat menjadi semacam panduan atau kontrol agar kita terus merawat kesadaran untuk berbuat baik. Pemahaman akan pentingnya menjaga kemanusiaan.

Saya mengucapkan selamat kepada rilislampung.id dan Aura Publishing yang berpartisipasi menuliskan aktivitas kerelawanan mereka dan membukukannya dengan judul Berbagi untuk Bangkit Kembali (Catatan Relawan 69). Ini adalah warisan berharga untuk generasi berikutnya.

Mudah-mudahan setiap lembar buku yang ditulis dengan hati itu menjadi sumbangsih pemikiran, dibaca banyak generasi muda, sekaligus menginspirasi mereka. Terima kasih dan selamat atas penerbitan bukunya. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID