Rusak, Jika Demokrasi Terus Dibayangi Korporasi

Kamis | 05/07/2018 16.13 WIB
Rusak, Jika Demokrasi Terus Dibayangi Korporasi
Gunawan Raka, Wakil Ketua DPW PAN Lampung Bidang Pemenangan Pemilu

RILIS.ID, Bandarlampung – Tidak bisa dipungkiri, buruknya demokrasi di Indonesia, karena begitu leluasanya korporasi masuk pada ranah politik. Ditambah lagi dengan, relugasi yang tidak mengatur secara ketat, batasan sumbangan bagi parpol dan perseorangan di kancah pilkada.   

Dan terbukti, kualitas Pilgub Lampung 27 Juni lalu, tercederai. Demo politik uang makin intens. Sementara kerja kongkrit Bawaslu dan Gakkumdu, belum juga final. Ini jelas menjadi pembelajaran semua komponen.

”Dominasi politik uangnya kentara. Dan kemungkinan, dilakukan semua pasangan calon. Bisa jadi, kondisi ini pun akan berlaku pada Pileg dan Pilpres 2019,” terang Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu, DPW PAN Lampung, Gunawan Raka, Kamis (5/7/2018).

Wajar, sambung Gunawan, di tengah problem  yang muncul, ketertarikan anak muda untuk masuk pada partai politik kian terkikis. Anak muda yang identik dengan semangat menggebu-gebu dan idealisme tinggi, sudah terlanjur menganggap politik itu kotor. 

”Daripada masuk ke dunia politik, kebanyakan dari kita tentu akan memilih bekerja di korporasi yang diyakini mampu menjamin masa depan,” terang pria yang berprofesi sebagai advokat itu. 

Kalaupun ada, sebagian dari anak muda yang dengan idealismenya ingin memperbaiki keadaan, pada akhirnya lebih memilih mundur secara teratur ketika dihadapkan pada risiko-risiko yang harus dihadapi. 

”Apalagi jika menentang arus. Maka akan habis dia. Dan inilah kondisinya sekarang. Dan PAN memiliki kewajiban merubah mindset itu dan tak bosan membangun semangat,” ujar Gunawan yang ditemui Rilislampung.id di kediamannya Jalan Pulau Buru, Gang Pulau Pisang, Wayhalim Permai, Bandarlampung. 

PAN sendiri menilai, apabila seluruh anak-anak muda yang cerdas dan memiliki idealisme enggan berkiprah di dunia politik. Kondisi pembangunan akan semakin buruk. 

”Apa yang akan terjadi? Jika seluruh anak muda yang cerdas dan memiliki idealisme meninggalkan politik. Tentunya dunia politik akan diisi oleh orang-orang dengan kemampuan seadanya dan parahnya tanpa idealisme,” papar Gunawan. 

Pendapat senada diutarakan Akademisi Universitas Lampung, Maruli Hendra Utama. Kondisi Lampung, Surabaya dan daerah lain, siklus politiknya hampir sama.  

”Politik nasional kita dipenuhi oleh orang-orang yang seringkali bukan orang terbaik di bidangnya. Tapi bisa duduk pada posisi tertentu. Padahal instan,” tegas dosen sosiologi dan ilmu politik itu. 

Ini akibat persepsi negatif yang terlanjur tertanam dalam benak masyarakat dan kebobrokan politik serta pemerintahan yang sudah berlangsung lama. 

”Jadi wajar jika muncul skeptisme. Kebanyakan dari kita sudah lelah berteriak namun diabaikan pemerintah apalagi parpol,” tandas mantan aktivis 90-an itu.   

Disinggung soal korporasi yang mengakar pada ranah politik. Maruli hanya tersenyum tipis. 

”Kelemahannya kan sudah Anda tahu. UU-nya yang mengatur begitu lemah. Nah dari daripada menunggu pemerintah berbuat, sebagian dari kita harus berinisiatif, tampil membuat gerakan,” ucapnya.  

Tidak ada yang salah dari mencari solusi, jika didasari dari buruknya hasil demokrasi.

”Terus mau dibiarkan? Akan rusak, jika demokrasi terus dibayangi korporasi,” pungkasnya. (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID