Saum dan Iman
lampung@rilis.id
Minggu | 20/05/2018 06.01 WIB
Saum dan Iman
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – SAUM adalah panggilan Allah SWT kepada mereka yang beriman (Ya ayyuhallazina amanu kutiba ’alaikumussyiam). Tanpa iman tidak akan ada saum. Karena saum merupakan ibadah yang berat dan hanya diketahui antara hamba dengan Tuhan. Artinya, sewaktu-waktu kita bisa makan dan minum  tanpa diketahui orang. Tapi Allah pasti tahu. Itulah sebabnya kita menahan lapar dan haus serta menjauhi larangan saum.

Mengapa saum ditujukan kepada orang beriman? Karena iman adalah pengakuan di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan amal perbuatan. Iman adalah satunya keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Belum menjadi keyakinan bila belum diamalkan. Tidak ada artinya ucapan kalau tidak dilaksanakan. Dan, tidak bermakna suatu perbuatan tanpa dilandasi keyakinan.   

Dengan demikian, saum merupakan perwujudan atas keimanan kita kepada Allah SWT. Keimanan menjadikan kita suka cita dan penuh semangat menjalankan saum. Dalam kesukacitaan dan semangat itulah kita menikmati saum dan mendapat kebahagiaan.

Kebahagiaan pertama adalah saat kita menikmati buka puasa dan kebahagiaan selanjutnya adalah ketika kita berhasil menundukkan diri keharibaan Allah SWT. Dan, kebahagian sesungguhnya adalah pada saat kita menjumpai-Nya.

Itulah sebabnya nabi menegaskan bahwa saum haruslah atas iman (man sauma ramadlan imanan wahtisaban...). Bila tidak maka hanya akan dapat haus dan lapar.

Menahan makan dan minum (puasa) banyak dilakukan untuk berbagai alasan (diet dan lain-lain). Hal ini menunjukkan bahwa saum adalah ibadah yang ditujukan untuk meraih rida Allah SWT sebagai wujud ketundukan dan kepatuhan pada-Nya.

Harusnya kita yang sudah menjalankan ibadah saum berulang kali dapat mawas diri (muhasabah) untuk menilai sejauhmana saum kita benar-benar atas kesadaran dan penuh kesungguhan hanya mengharap pada Allah.

Sebagai manusia memang kita tempat lupa (khilaf) dan penuh kelemahan (dhoif). Bahkan setan selalu menggoda manusia untuk selalu ingkar dan lari dari perintah Allah SWT. 

Namun demikian kita haruslah selalu berusaha meningkatkan kualitas dan kadar saum kita sehingga memenuhi kriteria yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, yaitu saum yang imanan wahtisaban

Iman mendorong kita untuk terus meningkatkan kualitas saum. Kualitas saum kita tingkatkan dengan menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi maknanya,  seperti mengurangi percakapan yang tidak perlu, menonton tayangan atau mendengarkan yang sifatnya hiburan, dan menghabiskan waktu (ngabuburit) sekadar jalan-jalan.

Kualitas saum kita tingkatkan dengan meningkatkan amal ibadah yang mengokohkan iman dan mendekatkan diri pada Allah (taqarrub Ilallah), seperti memperbanyak salat sunah, berinteraksi dengan Alquran (baca: memahami dan menghapalkan), melapalkan kalimat tayibah (zikir), memperbanyak sedekah, dan meningkatkan kerja-kerja kemanusiaan (amal saleh), serta mendalami pengetahuan agama (tolabul ilmi).  

Perjuangan untuk menjalankan saum dengan benar menunjukkan kualitas iman. Saum yang demikianlah yang akan berujung pada ketakwaan (la’allakum tattakun). Siapa yang tidak ingin menjadi takwa... (*)

 

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID