Saum dan Takwa
lampung@rilis.id
Selasa | 22/05/2018 06.01 WIB
Saum dan Takwa
Asrian Hendi Caya, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Lampung; Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan

RILIS.ID, – APA yang diperoleh dengan saum? Allah SWT menjanjikan mendapatkan ketakwaan (Qs 2: 183). Mengapa manusia harus takwa? Karena manusia yang takwa akan mendapat kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.

Ketika manusia takwa maka Allah SWT akan cinta kepadanya. Manakala Allah SWT telah cinta kepada manusia, maka semua makhluk ciptaan Allah SWT juga akan cinta kepadanya. Bayangkan bila semua alam raya dan seisinya cinta pada kita. Apalagi yang tidak dapat kita penuhi? Apakah kita tidak akan bahagia?

Itulah sebabnya melalui saum kita akan menjadi takwa. Takwa setidaknya memuat tiga dimensi, yaitu spiritualitas, ritual, dan sosial.

Dimensi spiritual menjadikan manusia percaya pada kehidupan akhirat, pada kekuatan maha pengatur sehingga bumi dan alam raya terjaga dalam keseimbangan dan keteraturan. Intinya adalah iman pada Allah SWT.

Iman kepada Allah SWT tidak cukup dengan percaya dan yakin bahwa Allah SWT ada dan maha kuasa. Iman kepada Allah SWT juga tidak cukup dengan menyebutkannya, mengikrarkannya. Iman kepada Allah SWT baru utuh ketika kita mengamalkan apa yang kita yakini dan percaya, melaksanakan yang kita ikrarkan. Bila kita yakin akan adanya Allah SWT dan kita mengikrarkan adanya Allah SWT, maka kita harus dapat menunjukkannya melalui amal perbuatan (ritual).

Banyak sekali ritual yang harus kita lakukan. Di antara ritual yang wajib adalah salat, saum, dan zakat. Allah SWT menghendaki kita saum, apakah kita menjalankannya dengan penuh suka cita dan semangat.

Hampir semua kita (secara awam) dapat melaksanakan saum. Walau pun saum kita harus terus ditingkatkan sehingga mencapai saum yang khusus bil khusus (Al-Ghazali), yaitu tidak sekadar menahan hawa nafsu dari makan-minum, menjaga pandangan, dan mengendalikan perkataan. Artinya, dimensi ritual takwa meliputi kewajiban ibadah yang telah ditetapkan Allah SWT.

Ketika manusia memiliki muatan spiritual dan menegakkan ritual maka akan tumbuh sebuah perilaku terpuji dan tanggungjawab sosial sebagai refleksi-cerminan dimensi spiritual dan ritualnya. Karena itu, ketakwaan akan menjadikan manusia berbuat baik (ahlaqul qarimah) dan bertanggungjawab kepada semua mahluk ciptaan Allah SWT.  Dengan demikian, manusia akan menjadi pemakmur alam, yang memberikan manfaat baik (rahmatan lil ‘alamin) dan pelindung-pembela bagi sesamanya yang tidak mampu.

Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa beliau diutus Allah SWT dengan membawa ajaran Islam adalah untuk merubah manusia agar berperilaku terpuji (innama buisthu liutammima maqarimal ahlaq - Hadis shahih. Diriwayatkan Abu Hurairah yang dikeluarkan Bukhari dalam Adabul Mufrad; Ibn Sa’ad dalam Thabaqat; Hakim, Ahmad, Ibn Asakir dalam Tarikh Baqdad, Baihaqi dan Dailami). Inilah dimensi sosial takwa. Semoga kita berada pada semua imensi itu. Amin. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID