Selamat dari Lupus, Karin sempat Sebulan Kritis di RS
Gueade
Sabtu | 14/04/2018 07.00 WIB
Selamat dari Lupus, Karin sempat Sebulan Kritis di RS
Karina Lin memberikan bukunya, 'Lampungisme' kepada senior development rilis.id, Hendarmin, Kamis (12/4). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ Ade Yunarso

RILIS.ID, Bandarlampung – Karina Lin kaget. Muncul bintik-bintik merah di pipinya pada awal tahun 2014. Tapi waktu itu ia berpikir cuma jerawat biasa. Atau, salah produk wajah. Namun sang bintik tak juga hilang meski dia akhirnya menghentikan pemakaian benda yang dicurigainya tersebut.

Bulan Juli di tahun yang sama, ia memutuskan ke dokter kulit di rumah sakit Advent. Pada dokter di sana, dia menceritakan keluhannya. ”Dokter itu nggak ngomong ini sakit apa. Udah beres, aku dikasih resep. Yang aku inget dikasih salep racikan sama obat untuk dimakan,” kenang Karin –sapaan akrabnya di acara Rilis Corner di kantor Rilislampung.id, Kamis (12/4/2018).

Karin mulanya senang. Bintik merah menyerupai ruam di wajahnya hilang. Namun hanya sebulan. Lalu, muncul lagi tak hanya di pipi, tapi leher dan sebagian bahu. Dia memutuskan pergi ke dokter yang sama dan bertanya, ”Aku ini kena autoimun bukan sih, Dok. Dokter jawab, ’Bukan’.” Dokter memberinya obat yang sama dan kasus serupa terulang. ”Minum, sebulan baik, terus bintik merah muncul lagi. Aku capek,” kata Karin.

Karin sempat tak peduli lagi pada bintik merah itu. Ia pada akhir tahun 2014 bahkan masih sempat ke Jakarta untuk travelling. Tapi tak lama. Terdorong rasa penasaran, pada Januari 2015 dia coba ke dokter kulit lain di Enggal, Tanjungkarang Pusat. Dokter yang juga berpraktik di RS Bintang Amin Husada itu, adalah Resati Nando Panonsih, Sp.K.K.

”Terus dia tanya, ’Rambutnya rontok nggak?’. Aku jawab, ’Iya’. Eh dokter itu terus bergumam, ’Hmm lupus’,” ungkap Karin. Dari Resati, Karin mendapat penjelasan tentang lupus dan kemudian berusaha mencari tahu tentang penyakit yang punya nama panjang Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Dokter itu juga yang menyarankan Karin mengurus BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

Untuk memastikan benarkah lupus sakit yang dideritanya, Karin memeriksakan diri ke RS Urip Sumoharjo. Setelah minum obat, bintik merah berkurang. Meski rambutnya rontok, Karin tak begitu memperhatikan. Padahal, bintik merah dan rambut rontok merupakan indikator lupus.

Karin, sebabnya, merasa kesehatannya sudah membaik. Sampai, pada Mei 2015 bintik merah muncul lagi. ”Pusing aku. Terus balik lagi berobat ke RS Urip Sumoharjo,” ujarnya.

Karin kemudian memilih ganti dokter. Dokter Tehar Karo-Karo, Sp.PD-FINASIM di RS Advent jadi pilihannya. Ia merasa cocok karena sang dokter dapat memberi penjelasan yang diinginkannya.

Karin rutin berobat ke dokter Tehar hingga pada Oktober 2016, muncul bercak merah di sekujur tubuh. ”Sama dia (Tehar, Red) disaranin rawat inap. Karena bintik merah di sekujur tubuh. Empat hari dirawat. Lemes minta ampun,” jelasnya.

Setelah kondisinya pulih, Karin meminta rujukan ke laboratorium. Meski didiagnosa lupus, Karin ingin kepastian. Sebab, lupus termasuk sakit yang sulit dideteksi karena sifatnya mimikri atau peniru. Hasil laboratorium ke luar.

Dari tes ANA (The Antinuclear Antibody), lima antigennya positif. Tiga antigen masuk kategori strong positif dengan tiga tanda plus. Sementara dua lainnya satu positif. Antigen adalah zat yang merangsang respons imun, terutama dalam menghasilkan antibodi. 

Setelah positif lupus, dokter Tehar menyarankan Karin ke Jakarta atau Bandung. Karin pun mencoba mencari tahu siapa dokter yang dinilai kompeten untuk menangani lupus. Dari hasil pencariannya di internet, akhirnya ia mendapat nama yang direkomendasikan, Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD.

Karin sempat mengontak Zubairi lewat Facebook Messenger. Profesor itu kemudian memberikannya nomor telepon untuk dihubungi. Karin langsung ke RS Kramat 128 tempat praktik Zubairi. Namun dia tak bisa begitu saja berobat. Daftar antrean ternyata sangat panjang.

Karin beruntung saat menunggu di lobi rumah sakit, melihat Tiara Savitri, Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI). ”Karena Savitri akhirnya aku bisa juga hari itu berobat ke Prof Zubairi. Begitu berobat, aku langsung diresepin stereoid 16 miligram yang diminum selama 7 hari, 1 hari tiga kali. Setelah seminggu, dosis turun 32 mg. Obat diminum pagi dan sore,” paparnya.

Januari 2017, kondisi Karin drop sewaktu berada di Sekretariat AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia di Jl. Kembang Raya No. 6, RT.3/RW.1, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Karin adalah anggota AJI Bandarlampung yang saat itu berada di kantor AJI Indonesia untuk menghadiri sebuah acara.

Karin terserang demam berhari-hari dan batuk terus-menerus. Karin sempat dirawat di rumah singgah. Tapi hanya sebentar karena kondisinya mengkhawatirkan. ”Aku akhirnya dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) di  Kramat 128. Aku nggak inget pasti gimana. Tapi masuk IGD sehari atau dua hari, terus masuk Intensive Care Unit (ICU). Kritis,” kenangnya.

Cukup lama Karin berada dalam keadaan kritis, hampir sebulan. Waktu sadar, Karin sudah berada di ruang rawat inap. Tidak pernah terpikir dia telah melewati masa-masa yang mengkhawatirkan. ”Kayak orang ngimpi. Ada Mbak yang ngurusin saya. Tapi saya nggak tahu dia siapa, siapa yang bayar,” terusnya.

Sekarang status lupusnya stabil. Meski begitu, Karin tetap rawat jalan. Sebulan sekali, dia bolak-balik Jakarta-Lampung. ”Aku sekarang sehari sekali minum 8 mg steroid. Dosis ditentukan sesuai kondisi lupus. Semakin baik, dosisnya bisa semakin turun. Doakan ya, kondisiku terus membaik,” harap Karin. (*)

 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID