Seorang Ibu Kelilingi Unila Selama 16 Tahun untuk Jualan Pempek

Minggu | 04/03/2018 16.05 WIB
Seorang Ibu Kelilingi Unila Selama 16 Tahun untuk Jualan Pempek
Mutamimah menjajakan pempeknya di lingkungan Unila. FOTO: RILIS.ID/Bayumi Adinata

RILIS.ID, Bandarlampung – Kasih ibu, kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa.

Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.

Lagu itu mengingatkan kita betapa kasih sayang ibu terhadap anaknya tidak akan pernah terputus, tidak lekang oleh waktu, tidak surut hingga akhir masanya untuk meninggalkan dunia.

***

TERIK mentari terasa menyengat. Rindangnya pepohonan di lingkungan Kampus Hijau, Universitas Lampung, seolah tak mampu menahan panasnya sinar matahari.

Di tengah panasnya cuaca siang itu, sebagian manusia tentu ingin berlindung, mencari tempat yang bisa membuatnya merasa sejuk dan nyaman.

Namun tidak demikian dengan sebagian lainnya. Dengan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka harus tetap bertahan. Tetap bekerja di bawah teriknya matahari.

Salah satunya, Mutamimah. Perempuan berusia 53 tahun tahun ini tetap menjajakan pempek di lingkungan Unila. Sudah 16 tahun ia berkeliling untuk berjualan pempek.

Warga Desa Banjarsari, Kecamatan Tanjungbintang Kabupaten Lampung Selatan mengatakan, pekerjaan yang tidak ringan ini dilakukan demi membiayai sekolah 6 anak-anaknya.

"Ya beginilah mas beratnya jadi orang tua, untuk membantu suami menyekolahkan anak –anak saya setiap hari keliling berjualan pempek. Sebab, mengandalkan penghasilan suami saja  tidak cukup," kata  dia kepada rilislampung.id.

Dengan menenteng keranjang berisi pempek, ia  berkeliling menelusuri satu fakultas ke fakultas lainnya. Menawarkan dagangannya kepada pada mahasiswa.

Mutamimah menjelaskan, pempek yang ia jajakan bukan buatin sendiri. Tetapi mengambil dari orang lain di sekitar daerah Jagabaya, Bandarlampung.

Biasanya ia membawa 160 pempek yang terdiri bermacam-macam mas, ada rasa ikan,isi telor dan lain-lain.

Satu pempek dijualnya Rp1.000. Sedangkan yang disetorkan Rp700. Jadi, ia dapat untung Rp300 tiap pempek.

"Saya berjualan berangkat dari pagi pukul 06.30 diantar suami, pulang sore jam 17.00 WIB. Pempek yang saya bawa sehabisnya saja mas, kalau tidak habis dipulangkan, biasanya tidak habis masih sisa 20 pempek. Jadi saya bawa uang Rp 45.000 sampai Rp.50.000,” ujarnya. 

Agus, salah seorang mahasiswa yang tengah membeli pempeknya mengatakan, harga pempek itu tergolong terjangkau.  “Saya sering membeli pempek ini, selain enak harganya terjangkau,” kata dia. (*)

Editor


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID