Soal Air, BPDAS Salahkan Pemerintah Daerah

Rabu | 27/02/2019 21.32 WIB
Soal Air, BPDAS Salahkan Pemerintah Daerah
Suasana Diskusi yang bertema “Balada Petani : Kemarau Kekeringan, Hujan Kebanjiran. Pengelola Air Ngapain aja?” di Kedai Kopi Dr.Coffe, Rabu (27/2/2019). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/El Shinta

RILIS.ID, Bandarlampung – Persoalan paling utama dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah sinkronisasi antara BPDAS dengan pemerintah daerah setempat.

Hal itu diungkapkan Analis Data Program DAS pada Balai Pengelolaan (BP) DAS, Ashadi Maryanto. Menurut dia, BPDAS konsisten menangani aliran sungai memiliki acuan dasar dalam mengelola DAS.

Namun, pemerintah daerah kerap mengabaikannya. Sehingga aliran sungai dari hulu ke hilir terjadi permasalahan.

”Sebenarnya kalau ada sinkronisasi antara BPDAS dengan pemerintah daerah, saya yakin banjir dan kekeringan tidak seperti ini,” ungkapnya, dalam Diskusi yang digelar Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) BPW Lampung dengan tema Balada Petani: Kemarau Kekeringan, Hujan Kebanjiran. Pengelola Air Ngapain aja? di Kedai Kopi Dr.Coffe, Rabu (27/2/2019).

Pada diskusi dengan moderator Wakil Ketua II BPW PISPI Lampung, Wirahadikusumah itu, Ashadi menjelaskan saat ini ada sekitar 285 DAS yang ada di Lampung. Dalam pengelolaan DAS, ada tiga hal pendukung yang menjadi upaya dalam mengelola DAS yakni pendekatan teknis, rekayasa sosial dan kewirausahaan. ”Ketiga pendukung ini harus ada di sekitar DAS,” pungkasnya.

Sementara Ketua Forum DAS, Profesor Irwan Sukri Banuwa menjelaskan, air masih menjadi persoalan dikarenakan air yang seharusnya masuk ke tanah tidak bisa terserap dengan baik. Kondisi saat ini dengan hujan yang intensitas rendah dapat dipastikan kebanjiran di beberapa tempat.

”DAS Sekampung misalnya, dimana hulunya di Bendungan Batu Tegi sudah mengalami kerusakan. Vegetasi hutan di dekat bendungan sudah berkurang, akhirnya terjadi sedimentasi melebihi batas normal, karena 75 persen vegetasinya sudah rusak. Sehingga debit air yang dimanfaatkan tidak sesuai dengan targetnya,”bebernya.

Curah hujan yang sampai bumi, sambungnya, hal yang harus diperhatikan ada pada Infiltrasi (proses masuknya air dalam tanah).

Apabila terjadi kerusakan pada permukaan maka jumlah infiltrasi berkurang. Secara alami hal yang harus dilakukan adalah penanaman tanaman. Selain itu, dengan bantuan manusia adalah membangun bangunan untuk menampung dan memasukan air ke dalam tanah.

”Yang harus kita lakukan adalah menjaga kondisi infiltrasi agar baik salah satunya adalah dengan menanam ataupun membuat biopori, sehingga ratio debit maksimum tidak lebih dari 40,” pungkasnya.(*)

Editor Adi Pranoto


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID