Suap dari Bacaleg Seret Zainudin Jadi Tersangka 

Jumat | 27/07/2018 22.47 WIB
Suap dari Bacaleg Seret Zainudin Jadi Tersangka 
Bupati Lamsel Zainudin Hasan saat digelandang ke Gedung KPK, Jumat (27/7/2018). FOTO: ISTIMEWA.

RILIS.ID, Bandarlampung – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyiapkan rompi baru berwarna orange sebagai simbol penetapan tersangka Bupati Lamsel Zainudin Hasan, atas dugaan suap empat proyek infrastruktur.     

Ketua DPW PAN Lampung itu tidak sendiri, komisi anti rasuah juga menetapkan Agus Bhakti Nugroho (Ketua Fraksi PAN DPRD Lampung), Anjas Asmara (Kadis PU Lamsel) dan Gilang Ramadhan salah satu bakal calon legislatif dari PAN.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam keterangan resmi yang diterima rilislampung.id menjelaskan penangkapan Zainudin berawal dari informasi masyarakat adanya transaksi suap sebesar Rp200 juta. 

Uang yang berasal dari Gilang Ramadhan tersebut diduga terkait fee proyek infrastruktur di Lamsel tahun anggaran 2018. 

Zainudin yang juga adik kandung Ketua MPR Zulkifli Hasan itu diamankan di rumah pribadinya di Lamsel pada Kamis malam sekitar pukul 23.00 WIB. 

”Benar, KPK terus dalami apakah nantinya menyeret tersangka lain,” terang Basaria, Jumat (27/7/2018). 

Diduga pemberian uang dari GR (Gilang) kepada ZH (Zainudin) terkait dengan fee proyek sebesar 10-17 persen di lingkungan Dinas PUPR Lamsel.

”Zainudin diduga mengarahkan semua pengadaan proyek itu melalui Ketua Fraksi PAN DPRD Lampung Agus Bhakti Nugroho,” terangnya.  

Saat OTT, KPK lebih dulu mengamankan Agus, Gilang, dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lamsel Anjar Asmara di sebuah hotel di Bandarlampung. 

”Uang Rp200 juta yang diamankan itu berasal dari tangan mereka,” imbuhnya.  

Zainudin, Agus, dan Anjar disangka menerima suap Rp200 juta dari Gilang terkait empat proyek. Yakni, pengadaan box culvert Waysulan, rehabilitasi ruang jalan Banding kantor Camat Rajabasa, peningkatan ruas Jalan Kuncir Curug, dan peningkatan ruas Jalan Lingkar Dusun Tanahluhur. 

”Zainudin juga diduga meminta uang Rp400 juta sebagai uang muka empat proyek senilai Rp2,8 miliar. Sedangkan fee dari proyek lain masih terus didalami oleh KPK,” urai Basaria. (*) 


 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID