Syarif: Berkurbanlah yang Terbaik untuk Allah
lampung@rilis.id
Rabu | 22/08/2018 11.06 WIB
Syarif: Berkurbanlah yang Terbaik untuk Allah
Syarif Hidayat saat memberikan khotbah Idul Adha di Masjid Darussalam, Rabu (22/8/2018). FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Bandarlampung – Anggota DPRD Kota Bandarlampung, Syarif Hidayat, mengajak umat Islam memberi pengurbanan terbaik hanya untuk Allah SWT.

”Seperti Nabi Ibrahim yang selalu menjalankan perintah Allah dengan sesempurna mungkin,” amsal bapak satu anak itu saat berceramah di Masjid Darussalam, Langkapura, Rabu (22/8/2018).

Dia menjelaskan berkurban dalam bahasa Arab disebut tadh-hiyah. Maknanya, mengurbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu demi mencapai tujuan.

Semua manusia pasti melakukan pengurbanan sesuai tujuan hidup yang hendak dicapainya. Karena pada dasarnya, setiap orang punya kebebasan untuk memilih cara dan tujuan hidupnya sendiri.

”Apakah ia akan berkurban untuk Allah, ataukah berkurban memuaskan syahwat raga dan akalnya,” jelas Syarif, yang juga calon legislatif DPRD Provinsi Lampung daerah pemilihan Kota Bandarlampung ini.

Deklarator Partai Keadilan –sekarang Partai Keadilan sejahtera (PKS), itu mencontohkan ketaatan Nabi Ibrahim. Setiap Allah memberi perintah, Ibrahim akan melaksanakannya sesempurna mungkin. Demikian pula jika Allah melarang, ia pun segera meninggalkannya dengan penuh ketundukan.

Ada enam pengurbanan besar Nabi Ibrahim yang patut diingat oleh umat manusia.

Pertama, berkurban dengan akal fikirannya untuk mencari keberadaan Allah dan ketika beradu argumentasi dengan Raja Namrud.

Kedua, berjihad dengan jiwa dan raga dengan memenggal berhala-berhala kerajaan, sehingga akhirnya mendapatkan hukuman dibakar hidup-hidup. Ketiga, berkurban dengan perasaan ketika diusir oleh ayahnya.

Keempat, berkurban waktu dan perasaan ketika selalu berdoa supaya dianugerahi seorang putera hingga berusia lanjut.

Kelima, berkurban perasaan ketika harus meninggalkan istri dan anak semata wayangnya yang masih berusia bayi di sebuah lembah yang gersang tiada kehidupan (Makkah).

Terakhir; puncak pengurbananannya adalah ketika Allah memerintahkannya menyembelih putera semata wayangnya, anak yang sangat disayanginya.

”Itulah teladan mulia dari Nabi Ibrahim, memberikan pengurbanan total kepada Allah,” tegas Syarif.

Dalam konteks Idul Adha, umat Islam meneladani pengurbanan Ibrahim dengan menyembelih binatang. Bukan daging dan darahnya yang menjadi perhitungan di sisi Allah, tetapi keikhlasan untuk melaksanakan syariat-lah yang mendapat pahala di sisi-Nya.

”Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah memberi pengurbanan terbaik hanya kepada Allah?” ujar Syarif.

Atau, terus suami Olin Yurena, itu selama ini hanya pengurbanan sisa kepada Allah? Yaitu memberikan waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan harta sisa untuk Allah. Bukan yang terbaik.

”Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk bisa memberikan pengurbanan terbaik, Rasulullah, Islam, dan kaum muslimin. Dan, semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang beriman dalam arti sesungguhnya,” harapnya. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID