Ternyata, Ada Air Mata di Balik Pembuatan Dua Film HAM Ini

Minggu | 06/05/2018 14.11 WIB
Ternyata, Ada Air Mata di Balik Pembuatan Dua Film HAM Ini
Suasana diskusi Bulan Apresiasi Film Klub Nonton di Jamo Coffee and Kitchen, Sabtu (6/5/2018).FOTO RILISLAMPUNG.ID/El Shinta 

RILIS.ID, Bandarlampung – Suasana ruangan berbentuk persegi panjang itu nampak sesak dan gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanya ada di ujung kanan ruangan yang terpantul di layar putih. Luapan emosi terasa saat adegan demi adegan diputar.

Dua film karya anak bangsa yakni A Letter for Mommy karya Aji Aditya dan Laut Bercerita (Pritagita Arianegara), menjadi film pembuka pada Bulan Apresiasi Film. Acara yang digelar Klub Nonton di Jamo Coffee and Kitchen, Sabtu (6/5/2018), itu bekerjasama dengan rilislampung.id. Kedua film sama-sama mengangkat tema tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Film A Letter for Mommy sendiri bercerita tentang Ranu yang diperankan artis papan atas Chicco Jerikho, seorang ayah single yang terinfeksi HIV dan bekerja sebagai nelayan.

Ranu berusaha membujuk anaknya, Aryo, yang juga terinfeksi HIV untuk mendapat perawatan antiretroviral (ARV) dengan bermain kejar-kejaran.

Sementara film Laut Bercerita mengambil latar belakang pada peristiwa sejarah Indonesia pada 1998. Sejumlah pemain top Indonesia digandeng untuk menyempurnakan jalan cerita ini. Seperti Reza Rahardian, Ayushita, Dian Sastrowardoyo, dan Tio Pakusadewo.

Film ini menceritakan Biru Laut (Reza Rahardian) salah satu aktivis yang hilang dan diculik. Sesuai dengan namanya akhir hidupnya berada di sebuah dasar tempat gelap, sunyi yang penuh penyiksaan. Dari dasar laut ia bercerita tentang kematiannya dan kisah-kisah sebelumnya.

Dipandu moderator Iin Muthmainah, kisah dibalik dua film ini ini terungkap. Tiga narasumber yang hadir yakni Aji Aditya, produser Laut Bercerita, Wisnu Dermawan, dan Aktivis HAM, SN. Laila, bercerita bagaimana akhirnya film ini dibuat.

Aji mengatakan karya filmya yang kelima ini bisa disebut sebuah takdir yang manis. Pertemuannya dengan Chicco Jerikho di Hanoi International Film Festival (HIFF) 2016 menjadi awal mula project ini dibuat.

Aji mengaku untuk membuat film ini, ia mengiming-imingi Chicco jalan-jalan ke Pulau Pahawang selama 5 hari yang menjadi latar belakang pembuatan film.

”Ketemu Chicco di Hanoi karena film panjangnya yaitu Filosofi Kopi juga ada di sana. Dia bilang dengan gaya khasnya mau main film saya. ’Ya,’ saya bercanda. Tapi Chicco bilang dia serius. Setelah pulang dari Hanoi, saya langsung bongkar naskah-naskah saya dan ada satu naskah yang karakternya cocok dengan Chicco dan ajak komunitas dongeng Dakocan untuk kolaborasi,” paparnya.

Saat Aji mempresentasikan karyanya ke Chicco, dia menitikkan air mata. Chicco memberi isyarat, film ini harus ditonton banyak orang.

Sementara, Wisnu Dermawan mengaku film ini dibuat lantaran kedekatannya dengan Pritagita Arianegara, yang kerap terlibat pada project yang sama.

”Jujur saja waktu mau buat film ini modal nekat. Pemainnya ditentukan, lalu kami menggunakan koneksi kami untuk menghubungi tiap aktor dan aktris yang kami kenal,” kenangnya.

Dia terang-terangan bilang mereka nggak dibayar sama sekali. Jadi dia dan kawan-kawannya berupaya bagaimana syuting selama tiga hari itu bisa maksimal.

Kedua karya ini mendapat apresiasi dari aktivis HAM, SN. Naila. Ia mengaku sangat terharu dengan film yang diputar.

”Film ini dahsyat, pesan moralnya sangat berat. Sebelum Aji buat film ini, dia sempat datang ke saya bertanya soal keadilan gender, saya bilang itu harus private. Makanya ada adegan Ranu dan Aryo diakhir film bilang ’Nggak apa-apa kalau mau nangis, anak laki-laki boleh nangis’ itu salah satu poin bahwa ada keadilan gender. Terlepas dari itu, film ini sangat bagus,” pujinya. (*)

Editor Gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID