Tiga Faktor yang Bikin Musik Tradisional Lampung Punah

Minggu | 25/03/2018 11.36 WIB
Tiga Faktor yang Bikin Musik Tradisional Lampung Punah
Peneliti budaya ECSD Ricky Irawan dalam acara “Lampungnese Music in Motion” di Sinia Coffee, Jalan Ratu Dipuncak No.38 Kelurahan Durian Payung, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, Sabtu (24/3/2018) malam. FOTO: RILISLAMPUNG.ID/Taufik Rohman

RILIS.ID, Bandarlampung – Peneliti budaya ECSD (Edelweiss Center for Sustainable Development) Ricky Irawan menyebutkan ada tiga faktor utama yang jadi penyebab punahnya musik tradisional Lampung.

Menurut Ricky, faktor pertama ialah hilangnya praktik kebudayaan, di mana musik tersebut ada di dalamnya. Misalnya, acara manjau debingi (berkunjung ke kampung seberang) dan tidak datang dengan tangan kosong.

“Mereka membawa gambus balak (besar) atau lunik (kecil). Nah kemudian hilangnya budaya manjau debingi itu, ikut hilang juga gambus itu. Salah satu sebabnya karena hilangnya praktik kultural tradisi tersebut," paparnya saat acara diskusi “Lampungnese Music in Motion” bertajuk Sustainable Culture di Sinia Coffee, Jalan Ratu Dipuncak No.38 Kelurahan Durian Payung, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, Sabtu (24/3/2018) malam.

Faktor kedua, sambung Ricky, adanya perubahan kultur ekonomi musik budaya Lampung. Di mana pada tahun 2008 silam, ia bertemu salah satu penyanyi lagu Lampung bernama Arifin. “(Arifin) Dia berhenti karena dia tidak bisa hidup dari apa yang sudah dikaryakannya dari musik tradisi,” ujarnya.

Sementara faktor terakhir, masih kata Ricky, kegagalan generasi old melakukan regenerasi untuk mengorbitkan generasi muda sebagai penerus musik tradisional Lampung.

Tenaga pengajar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung ini menilai kencangnya penetrasi musik global menjadi salah satu penyebab. “Sehingga di perkotaan, anak muda lebih akrab dengan musik Justin Bieber dan Alan Walker ketimbang musik daerahnya sendiri,” tukasnya.

Melalui acara ini, tambah Ricky, pihaknya mencoba mempersembahkan musik tradisional dengan kreasi jazz. Sehingga ide kreatif ini dapat menghasilkan musik yang berakar pada budaya lokal. “Musik tradisonal dileburkan dengan musik jazz dengan beraneka ragamnya. Tidak asli dari nenek moyang tapi esensinya kita lihat dengan gaya musik modern,” ungkapnya.

Sementara Direktur Eksekutif ECSD Unang Mulkhan menambahkan bahwa pihaknya ingin bertukar pikiran tentang bagaimana berbicara masalah pembangunan budaya lokal. “Kita lestarikan musik tradisional Lampung agar anak cucu kita tahu, tidak hilang dimakan zaman sehingga diterima di generasi mendatang,” tuturnya.

Dalam acara tersebut turut menampilkan kreasi gamolan yang membawakan lagu Lawi Ibung persembahan Rian and Friends. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID