Ubikayu, Komoditas Harapan Petani Lampung Berjaya
lampung@rilis.id
Selasa | 11/08/2020 18.39 WIB
Ubikayu, Komoditas Harapan Petani Lampung Berjaya
Oleh: Dr. Ir. Erwanto, M.S. (Dosen FP Unila & Anggota DRD Lampung)

Walaupun sudah sering memperoleh Rekor Dunia MURI, perolehan rekor MURI kelima Fakultas Pertanian Unila tanggal 10 Agustus 2020 kemarin terasa sarat makna. Rekor MURI ini bertajuk ”Penemu Pakan Ternak Berbasis Batang Singkong”.

Sudah sangat dikenal bahwa Lampung selain sebagai sentra produksi ubikayu nasional juga adalah salah satu lumbung ternak nasional. Dengan demikian temuan tentang saling keterkaitan erat antar dua komoditas tersebut adalah suatu keniscayaan, yang pada saatnya ”dimunculkan” Yang Maha Kuasa ke permukaan. Selamat dan sukses untuk Fakultas Pertanian Unila dan tim penelitinya.

Rekor MURI tersebut seharusnya kembali menggugah kita semua bahwa Provinsi Lampung memiliki satu lagi komoditas harapan, yaitu ubikayu atau cassava. Meskipun, sangat disayangkan komoditas ubikayu sering ”tersisih” ketika pemerintah menyusun program prioritas pembangunan pertanian.

Hasil-hasil riset sudah meyakinkan bahwa produk ubikayu kian berperan strategis sebagai bahan baku industri pangan, industri energi, industri kosmetika, industri farmasi, pengembangan material maju, dll. Negara-negara di benua Afrika (share ±50% produksi ubikayu dunia) kian giat melakukan transformasi produksi ubikayu menuju agribisnis modern.

 Share produksi ubikayu Lampung terhadap produksi nasional sangat tinggi, pernah mencapai 9,2 juta ton tahun 2011 (38% produksi nasional). Namun, produksi ubikayu kemudian terus menurun menjadi 7,4 juta ton tahun 2015 (31% produksi nasional).

Empat besar sentra produksi ubikayu di Lampung adalah Lampung Tengah (40%), Lampung Utara (16%), Lampung Timur (14,8%), dan Tulangbawang Barat (12,6%). Gejolak angka produksi ubikayu di Lampung lebih disebabkan oleh harga ubikayu yang hampir tidak pernah stabil, sehingga sebagian petani beralih komoditas. Fenomena gejolak harga ini perlu dicermati dan dikaji oleh pemerintah dan akademisi.

Hasil diskusi dengan stakeholder agribisnis ubikayu dapat dirangkum bahwa komoditas ini masih menghadapi banyak persoalan. Permasalahan di hulu cukup berat antara lain: rendahnya mutu bibit (bahan tanam), ketersediaan dan kesuburan lahan (media tanam), dan terbatasnya modal.

Permasalahan di sektor budidaya juga cukup berat, antara lain terbatasnya ketersediaan air, kesulitan mendapatkan pupuk, dan praktik budidaya yang tidak berkelanjutan. Permasalahan terbesar adalah di sektor hilir dan tataniaga. Fenomena puncak panen raya ubikayu menyebabkan over supply (produksi melampaui kapasitas pabrik) yang berujung pada jatuhnya harga.

Selama puluhan tahun pembangunan permasalahan agribisnis ubikayu hulu-hilir seperti diuraikan di atas masih terus eksis. Permasalahan agribisnis ubikayu tersebut harus dijawab dan diatasi secara serius melalui orchestra riset dasar dan terapan lintas disiplin diikuti inovasi teknologi yang terancang dengan baik. Pekerjaan besar yang juga untuk kepentingan negara ini tentu menuntut partisipasi pemerintah pusat dan industri. Karena itu, sudah saatnya disusun inisiatif yang cerdas untuk mengorbitkan komoditas ubikayu dan kemudian mengusulkannya menjadi komoditas strategis nasional.

Sebagai komoditas strategis nasional, tentu Provinsi Lampung yang memiliki share 31-38% produksi ubikayu nasional akan lebih pantas menjadi lokasi pusat riset, inovasi, dan hilirisasi produk ubikayu yang didukung dana APBN. Dengan resources yang dimiliki (SDM, laboratorium, dan track record research) serta partnership yang telah terbangun (mitra di dalam & luar negeri) terkait ubikayu, Universitas Lampung sangat mungkin memimpin orchestra riset dan inovasi cassava.

Semoga perolehan Rekor MURI FP Unila yang ke lima ini bisa menjadi milestone kebangkitan agribisnis ubikayu sebagai komoditas harapan Petani Lampung Berjaya. Tabik Pun Ngalimpuro!(*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID