Ujian Kesabaran dan Keikhlasan
lampung@rilis.id
Kamis | 29/10/2020 22.30 WIB
Ujian Kesabaran dan Keikhlasan
Rosim Nyerupa, S.IP., tokoh muda Lampung Tengah. ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Kalbi Rikardo

Pembaca yang budiman, kita hidup dan tumbuh sudah wayahnya sebagai makhluk sosial, di mana satu sama lain kita saling membutuhkan. Dalam interaksi sosial, Islam menganjurkan kita untuk saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain.

Setiap manusia yang ada di muka bumi ini pasti pernah dan terus melakukan perbuatan baik terhadap manusia lainnya, baik terhadap orang yang dikenalnya maupun orang yang tidak dikenal. Itu merupakan anjuran terhadap kita untuk berlomba dalam kebaikan dan tentunya sebagai salah satu ladang amal bekal kelak kita di akhirat.

Dalam berbuat baik, tidak bisa kita pungkiri terkadang kita selalu mengingat-ingat, bahkan mungkin mengharapkan sebuah balasan dari manusia, betul tidak?

Tulisan ini saya buat hanyalah secercah pikiran manusia biasa di hari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1442 H.

Di saat membuka aplikasi media sosial, saya melihat story-story pertemanan di WhatsApp. Ada salah satu postingan teman yang membuat hati saya tergerak untuk menulis soal perbuatan baik manusia sebagai salah satu cara untuk mengasah kemampuan menulis yang cukup terbilang lama tidak pernah saya tuangkan. Status WhatsApp salah satu teman yang memposting status begini:

"Baru kali ini saya mikir jelek, saya berusaha baik ke orang, nolong orang sana-sini, Eh pas saya terpuruk gak ada yang nolong yang saya baikin juga gak bisa gantian. Emang benar kata orang yang bisa nolong dan bahagiain diri cuma diri sendiri," tulisnya.

Tidak hanya itu atau sekali dua kali kita mendapati status-status semacam itu bisa kita temukan bertebaran di media sosial. Sebuah ungkapan rasa hati mereka yang tidak salah juga, Mungkin lagi kesan dan lain sebagainya.

Ada pertanyaan hadir dalam benak saya, kenapa orang yang pernah berbuat kebaikan terhadap siapapun terkadang punya pikiran begini?

Karena keikhlasan dan ketulusan dia dalam berbuat baik perlu dikoreksi dan dievaluasi. Dia masih berharap kepada manusia untuk mendapatkan balasan dan lain-lain. Perlu diketahui dan menjadi pemahaman kita bersama, bahwa setiap apa yang kita lakukan kepada orang lain niatkan untuk ibadah karena Allah semata, lillahitaala tanpa mengharapkan dari yang bersangkutan dan orang lain.

Bahkan berharap untuk mendapatkan ucapan terima kasih dari orang pun jangan, Dan jangan mengharapkan sekecil apapun balasan terhadap manusia.

Sampai di sini puncak keikhlasan dan ketulusan kita sebagai manusia yang senantiasa mengharapkan ridho Allah diuji. Kemuliaan seseorang salah satu dapat dilihat dari keikhlasan dan ketulusannya. Ingat, kalau kita masih punya pikiran tersebut dan mengingat-ingat kebaikan yang pernah kita perbuat, maka akan gugur kebaikan kita, tidak akan dicatat sebagai amal ibadah.

Bahkan hukuman Allah sangat pedih bagi manusia yang berharap terhadap manusia. Ingat, jika kita sedikitpun berharap kepada manusia, maka kekecewaan itulah yang akan kamu dapat. Berbuat baik itu ibaratkan air yang mengalir di sungai, labas begitu saja dari hulu hingga hilir. Mana mungkin air balik kanan mengalir dari hilir hingga hulu. Itulah perumpamaan. Jangan pernah mengharapkan apapun terhadap perbuatan baik kita.

Dalam Alquran sangat jelas Allah berfirman: Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman, QS. Al-Maidah Ayat 23.

Dalam QS Al Insyrah Ayat 8: Dan hanya kepada tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.

Makanya kalau mau berbuat baik, berharaplah hanya kepada Allah, Rabb yang maha kuasa, maha kaya, maha membolak-balikkan hati manusia. Dia yang maha memberikan dan maha mencabut kenikmatan yang kita dapat.

Berbuat baik dalam bentuk apapun terhadap siapapun akan Allah balas dengan kebaikan sebagaimana yang kita perbuat, Bahkan akan Allah lipat gandakan jika kita pandai bersyukur atas kenikmatan yang telah Allah berikan.

Saya teringat nasihat Pun Beliau Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang di-Pertuan Ke 23 dalam suatu obrolan santai di sebuah hotel berbintang di Bandarlampung.

Beliau mengatakan kepada saya bahwa apapun yang telah kita perbuat terhadap seseorang (berbuat baik), maka langsung lupakan atas apa yang kita buat, jangan diingat-ingat lagi apalagi dibahas. Agar kita mendapatkan amal ibadah dan ridhonya Allah. Karena sesungguhnya dalam berbuat kebaikan itu, kita hanya mengharapkan ridhonya Allah. Dan untuk berbuat kebaikan, tidak harus menunggu kita punya atau menunggu kita kaya.

Bahkan jika kita belum punya dan belum kaya, kemudian kita bisa berbuat baik itu justru luar biasa. Sedekah, misalkan. Kemudian berbuat baik tidak harus berupa materi. Berbuat baik membantu orang lain dengan pikiran, tenaga dan bahkan doa. Maka ada istilah yang sering kita dengar, jika tidak bisa membantu dengan materi, bantulah dengan pikiran (ide dan gagasan).

Jika tidak bisa membantu dengan materi dan pikiran, bantu dengan tenaga. Tidak bisa juga dengan tenaga, bantu dengan doa. Sampai di sinilah puncak keimanan seseorang dapat dilihat.

Ikhlas, sabar dan berjiwa besar. Allah pasti akan membalas semua perbuatan baik dan buruknya kita. Ingat, tidak hari ini mungkin besok, Tidak besok mungkin lusa, tidak lusa mungkin minggu depan. Tidak juga minggu depan mungkin bulan depan. Tidak juga bulan depan mungkin tahun depan. Dan di akhirat janji Allah sangat nyata. Semua pasti akan dibalas oleh Allah SWT.

Mengutip kalimat bijak Saudara saya, Abda'u (Kabid PTKP HMI Cabang Bandarlampung), salah satu kandidat ketua HMI Cabang Bandarlampung bahwa pengetahuan dan pertemanan yang luas belum cukup untuk kita bisa bermanfaat. Perlu ada empati, responsibility dan keberanian yang kuat.

Sebagai makhluk yang beragama, Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci satu sama lain. Sebagaimana terkandung dalam QS. Al Baqarah: 216 yang artinya menyebutkan bahwa “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pada dasarnya memang sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujarat : 10).

Sebagai umat muslim, tugas kita adalah mengimplementasikannya dalam bermasyarakat untuk saling menjalin dan menjaga silaturahmi, saling merekatkan satu sama lain bahkan hubungan yang terjalin dalam sebuah perkawanan dapat menjadi hubungan persahabatan dan sangking baiknya interaksi dapat direkatkan menjadi sebuah hubungan kekeluargaan. Sehingga rasa saling memiliki antara satu sama lain dapat terjalin, Dengan itu akan tumbuh yang namanya saling menjaga baik menjaga hati maupun menjaga sikap.

Nilai-nilai keislaman tersebut jika dilihat dari sudut pandang kultural, sebagai Ulun (Orang) Lampung, nenek moyang kita telah mewariskan falsafah hidup yang menjadi pondasi diri dalam bermasyarakat yang disebut dengan Piil Pesenggiri.

Di dalam Piil Pesenggiri terdapat nilai Sakai Sambayan yang mengandung makna The Principle Of Collaboration atau prinsip kerja sama, Nemui Nyimah yang mengandung The Principle Of Appreciation (Prinsip Penghargaan), Nengah Nyapur yang memiliki makna The Principle Of Equality (Prinsip Persamaan) dan Bejuluq Buadeq yang mengandung makna The Principle Of Achievement (Prinsip penghargaan dan keberhasilan) serta terdapat adat Muwakhi yang dapat kita sibak implementasikan dalam hubungan sosial kita.

Prinsip-prinsip tersebut yang kemudian menjadi pondasi dasar yang musti diimplementasikan dalam interaksi perkawanan, sehingga persaudaraan tanpa syarat dapat diwujudkan dengan baik. Terkadang memang seringkali kita dihadapkan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan begitupun sebaliknya. Seperti halnya bermain sosial media seperti Instagram.

Saat memosting video atau gambar, kita tidak dapat memaksa followers menyukai postingan kita, Banyak atau tidaknya like dalam postingan tergantung kesukaan teman dalam Instagram kita. Begitu juga dengan hidup, Kita tidak bisa memaksakan kehendak agar orang lain seperti apa yang ada di hati kita.

Tugas kita hanyalah bagaimana berupaya memberikan hal yang terbaik kepada mereka dalam hubungan interaksi yang telah dibangun, Setelah itu, biarkan dalam perjalanannya ujian pertemanan terjadi, di situlah nanti akan teruji, mampukah kita saling mengisi dan bertahan?

Jangan pernah menyesal mengenal siapapun, karena seburuk-buruknya manusia pasti ada guna dan mungkin ada manfaatnya buat kita. Sang pencipta maha tahu dan maha adil, teruslah jadi pribadi yang senantiasa menebar kebaikan. Karena di saat kita menabur benih kebaikan, Maka kita akan menuai peradaban yang baik juga sebagai buah yang kelak pasti akan kita panen di kemudian hari.

Jangan pernah takut dikhianati, jangan pernah takut dimanipulasi dan jangan pernah takut disingkirkan karena jika hati tulus dalam bersoal kebaikan akan menyertaimu selalu. Sebab, pengkhianat tidak akan ada tempat di manapun ia berada pasti akan menjadi pengkhianat.

Sebalakkan, Seandanan, Dang Secadangan. Kalimat yang terkadang maknanya tidak kita petik, padahal mengandung makna yang berarti, salah satu diantaranya adalah saling membesarkan, saling merawat dan saling menguatkan. Hal itulah yang digaungkan tokoh yang akrab kita sapa Pun Edward Syah Pernong.

Semoga kita senantiasa tetap istiqomah dalam menjalankan apa yang Allah perintahkan terhadap kita sebagai hamba-Nya. Hidup di tengah kehidupan sosial yang selalu saling mengajak kepada kebaikan, berlomba dalam berbuat kebaikan. Hidup guyub dengan saling memperhatikan dan membesarkan, saling merawat, mengangkat dan mengingatkan terus untuk saling mengikat dan merajut persaudaraan.

Dan kita berharap semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dalam aktivitas duniawi, sehingga kita dapat diberikan kekuatan lebih untuk terus membantu baik diri kita, keluarga, kerabat, sahabat, sanak saudara dan masyarakat sehingga kita lebih mudah dalam mengajak satu sama lain untuk terus berpegang dan selalu istiqomah dij alan Allah SWT. Aamiin YRA. (*)

Editor Segan Simanjuntak


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID