Untukmu Pembaca Rilisid Lampung, Terima Kasih
Gueade
Senin | 01/02/2021 18.00 WIB
Untukmu Pembaca Rilisid Lampung, Terima Kasih
ILUSTRASI: RILISLAMPUNG.ID/Kalbi Rikardo

JUJUR. Mengurus media itu tidak mudah. Apalagi, bertahan hingga tiga tahun.

Yup. Umur Rilisid Lampung pada Senin, 1 Februari 2021 pas berusia tiga tahun. Tak terasa bukan?

Saya karenanya merasa perlu menulis ini. Anggaplah sekadar cerita kepada pembaca tentang jatuh-bangunnya Rilisid Lampung hingga bisa eksis seperti sekarang.

Sekadar informasi, Rilisid Lampung adalah subdomain dari rilis.id, media nasional yang berdiri pada Februari 2017.

Saya awalnya sempat heran ketika kali pertama ditawari mengurus rilis.id untuk Lampung. Kenapa nama media ini mesti ”rilis”?

Memang ini hanya soal kesan. Nama itu menurut saya lebih cocok dengan media yang sering menayangkan berita pers rilis.

Berita-berita seperti itu membuat dunia jurnalistik terasa tak berwarna. Banyak media, tapi satu berita.

Namun kesan itu ternyata salah. ”Rilis” ini merupakan akronim dari Berita Politik Indonesia. Konsepnya sangat bagus, altruisme politik.

Coba lihat saja penjabaran platform-nya. Terasa betul ada semangat kebaikan. Begini tulisnya:

”Politik adalah bentala yang digenangi kebajikan. Karena jalan menuju bangsa yang berketuhanan, berperikemanusiaan, dan berkeadilan sosial, merupakan kewajiban utama yang diemban oleh para politisi. 

Tapi kredo profetik itu berangsur luruh, lalu menjadi sebatas uang dan kekuasaan yang silih berganti diperebutkan, dengan cara apa pun! Landasan moral, prestasi dan gagasan sosial kian ranggas.   

Kehidupan politik, laun kerontang dan mencemaskan. Tentu, tak baik larut apalagi sekadar menyerapah. Semangat itulah yang melecut rilis.id hadir pada Februari 2017. 

Kami percaya, meski harus berdiri di tengah kerontang, ada altruisme, nilai fundamental dalam politik yang mendorong kebaikan bersama.

Juga, kami percaya, ada politisi altruis. Mereka tahu, politik adalah seni pengabdian. Bukan muslihat untuk kekuasaan.

Saung kecil ini didedikasikan untuk menyemai intensi itu; merawat dan menjalarkan altruisme politik. Selamat datang!

Bagaimana? Indah bukan kalimat-kalimat di platform itu? Terasa betul keinginan dari media ini untuk menebar kebaikan.

Saya merasa jika keinginan rilis.id ini bisa terwujud, maka politik di Indonesia benar-benar akan berubah wajah.

Tak akan terdengar lagi rekomendasi yang selesai di meja makan, money politics, korupsi, atau hal-hal memalukan lainnya.

Atas dasar merasakan semangat kebaikan itulah saya akhirnya mau mengelola Rilisid Lampung.

Apalagi setelah sempat berbincang-bincang dengan CEO rilis.id, Ilham Mendrofa.

Kalau di kalangan pengusaha atau politisi, tentu nama ini tak asing lagi. Dia adalah owner PT Agrokimia Group, salah satu distributor terbesar produk dan alat pertanian di Indonesia.

Sementara di dunia politik, Ilham sekarang menjabat Deputy Program Pro Rakyat DPP Partai Demokrat.

Saya yakin dan percaya dia adalah orang baik, punya pemikiran-pemikiran yang baik pula.

Saya ingat betul dia berkata, ”Rilis.id ini saya dirikan dengan maksud menyuarakan altruisme politik”.

”Daripada uang yang saya punya untuk foya-foya, lebih baik saya alokasikan untuk sesuatu yang bermanfaat, membuat media ini,” terusnya.

Bang Ilham, begitu saya memanggil dia, meski sebenarnya punya kekuatan untuk mengintervensi keredaksian, namun hal itu tak pernah ia lakukan. Komitmen yang ia bicarakan dari awal dan jaga betul sampai sekarang.

Semakin bersemangat saat Bang Ilham, begitu saya memanggil dirinya, berjanji memberikan saham bagi pendiri Rilisid Lampung. Paling lambat setahun setelah berjalan. Saya tentu termasuk satu di antaranya.

Maka singkat cerita, jadilah Rilisid Lampung. 

Untuk sebuah media online yang baru muncul, perkembangan Rilisid Lampung saya katakan termasuk cepat. Dari tadinya banyak yang tidak tahu, menjadi dikenal dalam hitungan sepekan saja.

Empat wartawannya pun sangat tangguh. Bekerja tak lagi dibatasi waktu. Benar-benar fight!

Jam delapan pagi wartawan dan redaktur sudah harus di kantor untuk proyeksi. Mengevaluasi berita sekaligus mendiskusikan apa yang akan dicari hari itu.

Maka tak heran, berita-berita yang dihasilkan berkualitas dan cepat viral. Ditambah eksklusivitas yang juga menjadi andalan.

Berita soal tertangkapnya mantan bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan misalnya, Rilisid Lampung-lah yang memberitakan pertama kali. Baru kemudian yang lain mengikuti. Tak percaya? Cek saja jejak digitalnya.

Ini bisa terjadi karena wartawan yang bertugas di pos kriminal, Muhammad Iqbal, terus membayangi pergerakan KPK hingga dinihari. Tepatnya sampai pukul 03.00 WIB! Iqbal ini tetap setia bersama kami hingga kini.

Soal integritas wartawan juga menjadi harga mati. Ambil contoh, manajemen sampai memberhentikan seorang jurnalis Rilisid Lampung di Lampung Tengah karena terbukti menjadi tim sukses salah satu kandidat.

Ada lagi seorang wartawan yang bertugas di Lampung Selatan. Ia dipecat karena korupsi belasan juta rupiah.

Itu termasuk salah satu masa-masa indah bagi Rilisid Lampung. Berita oke, integritas wartawan terjaga, uang pun ada karena secara finansial perusahaan sangat sehat.

Sampai akhirnya datanglah badai keuangan di Januari 2019. Penyebabnya: keenakan mengurusi redaksi, kurang serius cari uang.

Modal awal pelan-pelan tergerus sampai terpaksa pinjam ke PT Agro Kimia Natura (AKN) –PT Agrokimia Group.

Hendarmin (alm), senior Rilisid Lampung yang kala itu juga didaulat sebagai bos di Bussiness and Development pun tak luput dari sasaran utang. Begitu juga dengan Hengki Irawan, ombudsman Rilisid Lampung.

Tentu masih ingat siapa Hendarmin bukan? Itu loh yang memopulerkan ujar-ujar, ”Kenapa takut miskin, kalau kaya saja belum pernah?”.

Ujar-ujar ini saya yakin lahir dari pemikirannya sendiri. Bang Een –sapaannya, adalah perpustakaan berjalan. Oleh kawan-kawannya dia sampai dijuluki Gus Een karena kedalaman bacaannya.

Dia orang baik. Tak pernah sekali pun berkata tidak jika kawan-kawannya datang meminta pertolongan. Saya pribadi pun pernah berutang padanya.

Alfatihah untuk Bang Een, semoga diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di taman-taman surga oleh Allah. Amin.

Sedangkan, Hengki adalah seorang pengacara hebat yang juga penasehat hukum Rilisid Lampung. Tak mungkin, namanya tidak saya sebutkan karena bagi Rilisid Lampung dia adalah penyelamat. Sama dengan PT AKN dan Bang Een.

Karena utang-utang inilah kawan-kawan di Rilisid Lampung bisa sedikit bernapas. Meski, kadang telat gajian.

Yang paling puyeng jelas Segan Petrus Simanjuntak. Dia pemimpin perusahaan. Saya dan dia, dulunya sama-sama bekerja di salah satu media mainstream di Lampung.

Saya tahu betul betapa pontang-panting dia bergerak ke sana-sini mencari iklan agar kawan-kawannya bisa gajian.

Tapi sayang, ia seperti berjalan sendirian. Maklum saja, saya dasarnya adalah jurnalis murni. Tak bisa mengimbangi kegesitannya.

Sampai kemudian Wirahadikusumah masuk Rilisid Lampung di 20 April 2019. Sama juga, dia dari media tempat saya dan Segan dulu bekerja. 

Nah, Wira –sapaan akrab Direktur Utama Rilisid Lampung, ini bisa mengimbangi Segan. Dia multitalenta. Jurnalis iya, cari iklan juga oke.

Duet maut itu juga yang mencetuskan ide terbitnya koran Rilisid Lampung di April 2019. Bersamaan masuknya designer grafis Kalbi Rikardo.

Kardo –nama panggilannya, inilah yang kini karya ilustrasi dan grafisnya menghiasi Rilisid Lampung online dan koran Rilisid Lampung.

Ada satu lagi sebenarnya "orang lama" yang bekerja sejak awal Rilisid Lampung berdiri. Namanya, Suliswanto atau bisa dipanggil Anto RX. 

RX ini menunjukkan kecintaan layouter sekaligus ilustrator itu pada sepeda motor Yamaha RX King yang sehari-hari dipakainya. 

Dia termasuk tipe orang yang tidak banyak bicara. Namun soal pekerjaan tak perlu diragukan lagi. Terbitnya koran Rilisid Lampung sebanyak 24 halaman itu merupakan hasil tangan dinginnya.

Untuk design halaman, semua ia kerjakan sendiri. Hanya untuk urusan perwajahan halaman 1 dan ilustrasi, Anto biasa bekerjasama dengan Kardo. Termasuk pada 29 April 2019, kali pertama koran Rilisid Lampung terbit dengan judul headline: ”Ini Dia Kabinet Arinal!”

Headline ini memberitakan sebuah analisis isi kabinet sang pemenang pemilihan gubernur (pilgub) dua bulan sebelum gubernur Lampung Arinal Djunaidi dilantik.

Dan, tak perlu waktu lama. Duet Segan dan Wira perlahan menunjukkan hasil. Kami yang dulunya susah gajian, sekarang lancar. Meski, ada rasionalisasi pendapatan.

Rasionalisasi sebenarnya wajar saja bagi saya dan teman-teman. Pendapatan toh harus sesuai dengan pengeluaran. Jangan sampai besar pasak daripada tiang.

Apalagi, kemudian badai pandemi Corona Virus Disease (Covid)-19 menghantam Indonesia awal Maret 2020.

Semua bisnis tiarap. Pemecatan terjadi di sana-sini. Yang tak mau memberhentikan karyawannya, terpaksa memangkas gaji. Rasionalisasi.

Saya pun jual mobil. Tak masuk akal lagi punya kendaraan. Sementara biaya perawatan, bayar pajak, beli bensin, tak sebanding dengan pendapatan.

Tapi masa-masa susah itu cerita dulu. Sekarang, sekali lagi, duet maut Segan dan Wira ini benar-benar sukses besar. Bahkan, di tahun pandemi Rilisid Lampung masih mampu meraup laba Rp1 miliar lebih.

Angka ini bagi saya sangat luar biasa. Pada masa pandemi, di tengah krisis keuangan di sana-sini, Rilisid Lampung tetap tumbuh sehat. Bagian keuangan Mufidah Mardhiah dan Umdhatul Chasanah pun tersenyum bahagia. 

Mufidah ini termasuk karyawan Rilisid Lampung angkatan pertama. Selalu tersenyum apapun yang terjadi. Tapi kalau menyangkut soal uang dan tagihan jangan main-main dengannya. Tanya saja ke kawan-kawan wartawan terutama di daerah. 

Sementara Umdhatul Chasanah atau biasa kami panggil Umi dari Anugerah Alam Lampung --PT Agrokimia Grup, yang diperbantukan di Rilisid Lampung agar Mufidah tak keteteran.  

Bukan apa-apa, wartawan yang tadinya cuma ada di Bandarlampung sebanyak empat orang, kini di semua daerah di Lampung sudah terisi. Minimal satu, paling banyak tiga orang per kabupaten/kota.

Baru-baru ini pun, Rilisid Lampung mampu merekrut redaktur baru. Dia Andry Kurniawan, dulu bekerja di televisi nasional. Ada juga Dwi Des Saputra, wartawan yang juga pernah bekerja di televisi nasional. Ditambah Kiki Oktavian yang kini memperkuat Rilisid TV Lampung.

Kalau mau tahu seberapa sehatnya Rilisid Lampung sekarang sebenarnya mudah. Lihat saja Wira yang kini lebih necis. Tambah keren saat melihat dia turun dari mobil Daihatsu Terios baru itu.

Atau, Segan yang sebentar-sebentar tersenyum melihat ke arah handphone Samsung keluaran teranyar. Apalagi di sebelahnya ada mobil Honda Jazz putih yang selama ini menemani pria asal Medan itu ke mana-mana.

Tapi, bagi saya terpenting dari itu semua adalah para pembaca dan relasi. Rilisid Lampung dapat eksis sampai sekarang ini sesungguhnya karena ada yang mengapresiasi.

Saat ini, followers di fanpage rilis.id tercatat 131.074. Lalu, followers fanpage FB Rilisid Lampung 7.843, Rilisid Tv Lampung 11.701, e-paper Rilisid Lampung 4.225, dan Instagram 4.282. Sementara subscriber untuk Youtube Rilisid TV Lampung 7.130.

Jangan anggap remeh fanpage ini. Fanpage Rilisid Lampung pernah disewa oleh BRI Cabang Kotabumi –yang membawahi Tulangbawang Barat, Waykanan, dan Lampung Utara. Nilainya pun belasan juta rupiah.

Masih di bawah bendera Rilisid Lampung, kini lahir Lampung Corner. Media online juga yang sudah cukup banyak pembacanya. Juga ada event organizer dengan anggota tim tiga orang.

Saya benar-benar bersyukur Rilisid Lampung tak bernasib seperti The Correspondent, media online yang berumur pendek itu. Hidup 15 bulan lantas mati pada 1 Januari 2021.

Padahal, apa kurangnya The Correspondent yang lahir dari De Correspondent, situs berita di Belanda. Donatur media berbahasa Inggris ini tercatat lebih dari 50 ribu orang yang berasal dari 130 negara. Namun penyakit keuangan juga yang membunuhnya.

Memang The Correspondent memilih jalan jurnalisme yang sunyi: hidup tanpa iklan. Mereka hanya mengandalkan sokongan dana donatur, yang perkiraan saya lama-lama merasa bosan karena terus dimintai uang dan akhirnya menghentikan pasokannya.

Rilisid Lampung ini tentu bukan media seperti itu. Berusaha fleksibel di antara idealis dan pragmatis. Bagaimana secara bisnis tetap sehat tanpa mengadaikan independensi.

Tentunya itu semua akan sia-sia tanpa adanya pembaca. Percuma medianya aktif memposting berita, tapi tidak ada yang mengapresiasi.

Dan, Rilisid Lampung sepenuhnya percaya itu. Ibaratnya, pembaca adalah nyawa yang membuat kami hidup sampai sekarang. Karenanya, terima kasih pembaca Rilisid Lampung! (*)


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)

 





2019 | WWW.RILIS.ID