Zakat sebagai Jaring Pengaman Sosial - RILIS.ID
Zakat sebagai Jaring Pengaman Sosial
lampung@rilis.id
Selasa | 12/05/2020 06.01 WIB
Zakat sebagai Jaring Pengaman Sosial
Gunawan Handoko, Pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Bandarlampung

BENCANA pandemi Covid-19 di Indonesia memiliki dampak multi sektor, dari kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga aktivitas beribadah di masyarakat.

Dampak pada sektor-sektor tersebut kian hari semakin dirasakan masyarakat, khususnya menyangkut persoalan kesejahteraan sosial.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal juga menghantui pekerja di berbagai daerah. Belum lagi pekerja di sektor informal yang kondisinya perlu diantisipasi.

Dalam situasi darurat ini, pemenuhan kebutuhan primer menjadi prioritas untuk segera dipenuhi guna mencegah kelaparan ataupun gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Meski pemerintah telah melakukan antisipasi dengan memberi bantuan sembako bagi masyarakat yang terdampak, namun dalam pelaksanaannya di sana-sini masih banyak kendala.

Maka salah satu alternatifnya adalah melakukan optimalisasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), khususnya di masjid-masjid.

Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan shelter kemanusiaan dalam rangka melindungi kaum duafa maupun rentan duafa di lingkungan sekitar masjid secara cepat.

Peran panitia ZIS yang dikelola masjid saat ini menjadi sangat penting karena dipandang lebih mengetahui terhadap kondisi warga di sekitarnya. Sehingga pendistribusiannya bisa terjamin memenuhi azas pemerataan dan keadilan.

Inilah salah satu fungsi masjid dalam pengabdiannya di bidang sosial untuk pemberdayaan dan menciptakan kesejahteraan umat. Selain fungsi sebagai tempat ibadah ritual, pendidikan, dan kegiatan kemasyarakatan.

Dalam situasi saat ini, panitia ZIS tidak sekadar menjalankan tugas menerima dan menyalurkan. Tapi lebih dituntut untuk bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat yang berkemampuan agar bersedia membayar zakat melalui lembaga amil. Sekaligus menyisihkan sebagian hartanya guna meringankan beban warga sekitar yang kurang beruntung dan rentan miskin.

Tidak mudah memang, mengingat mereka yang memilih untuk membayar dan menyalurkan zakatnya secara langsung kepada mustahiq, rata-rata bukanlah masyarakat yang awam tentang syariat. Justru sebaliknya, mereka adalah kelompok yang paham namun kurang atau tidak memiliki empati terhadap permasalahan sosial di sekitarnya.

Padahal salah satu di antara sekian hikmah dan rahasia ibadah puasa adalah untuk memupuk semangat solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, kepedulian sesama, dan kesetiakawanan sosial.

Selain kewajiban berpuasa dan membayar zakat fitrah, bagi muslim yang mampu juga diperintahkan untuk berinfak dan bersedekah serta mengerjakan amal kebajikan lainnya.

Maka ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat diukur di penghujung bulan Ramadan ini. Sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa dengan membuang jauh-jauh sifat bakhil.

Karena sesungguhnya apabila zakat dan wakaf dikelola secara baik akan menjadi potensi kekuatan sosial bagi masyarakat yang agamis dalam membantu tugas negara. Khususnya dalam menanggulangi dampak Covid-19.

Maka perlu kesadaran semua pihak bahwa zakat bukanlah semata-mata urusan pribadi para muzakki dengan mustahiq. Tetapi menjadi urusan kelembagaan atau institusi karena di dalamnya terdapat unsur penghimpunan, penyaluran, dan pelaporan yang transparan dan bertanggung jawab.

Itulah sebabnya pada zaman Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam dan para sahabat, tidak pernah terjadi pemberian zakat dari muzakki langsung kepada penerima atau mustahiq. Melainkan disalurkan melalui badan amil yang dibentuk oleh imam (pemerintah).

Maka jelas, dengan membayar zakat (termasuk infak dan sedekah) melalui amil, selain menjalankan petunjuk Alquran, sunah Rasullullah dan para sahabat serta para tabi’in, juga untuk menjaga adanya beban moral maupun perasaan rendah diri para mustahiq, karena harus berhadapan langsung pada saat menerima zakat dari para muzakki.

Dan yang paling penting adalah untuk menjaga timbulnya sifat riya’ pada diri muzakki, ketika menerima sanjungan dari para mustahiq atas kedermawannya.

Dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah hendaknya dilakukan dengan ikhlas dan menyerahkan pengelolaannya kepada lembaga amil, tanpa harus berpikir siapa orang yang bakal menerimanya nanti.

Zakat adalah untuk membangun kesalehan individu, strategi muroqobah seorang hamba dengan Tuhannya, menambah kecerdasan, dan kesalehan sebagai makhluk sosial.

Ramadan juga mengajarkan kepada umat muslim untuk melaksanakan ibadah sosial, sebagai sarana untuk meningkatkan rasa kasih sayang, persamaan derajat dan solidaritas sosial.

Dengan hikmah dan rahasia Ramadan, manusia dituntut untuk dapat merasakan kesedihan saudara-saudaranya yang masih ditimpa rasa lapar dan dahaga. Karena mereka tidak dapat makan dan minum senikmat kita.

Maka setiap muslim dituntut untuk menumbuhkembangkan sifat kedermawanan dan empati untuk berbagi kepada kaum duafa di sekitarnya dalam rangka untuk meraih kemuliaan dihadapan Allah Ta’ala.

Semoga Ramadhan tahun ini mampu mempertebal keyakinan kita untuk kembali pada tuntunan Allah. Bahwa menjadi satu kewajiban bagi seorang muslim yang diberikan kelebihan harta untuk berbagi kepada kaum duafa. Sehingga kewajiban berzakat pun menjadi salah satu pilar dalam rukun Islam.

Hal penting dalam berzakat, yakni membangun kesalehan individu, strategi muroqobah seorang hamba dengan Tuhannya, dan menambah kecerdasan serta kesalehan sebagai makhluk sosial yang berbagi peduli dengan lingkungan dan kaum yang belum beruntung.

Dengan memberanikan diri menafkahkan sebagian harta yang dititipkan Allah, pada akhirnya seseorang mampu merasakan tarikan magnet dan gravitasi nikmatnya bersedekah.

Karena sesungguhnya ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah puasa dapat diukur sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa.

Dengan berinfaq dan bersedekah, semoga akan menyempurnakan ibadah puasa yang kita laksanakan dan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi di hadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat muttaqin.

Wallahu a’lam bis showab, minal aidin wal faizin 1441 Hijriah. (*)

Editor gueade


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2019 | WWW.RILIS.ID